Tipikal masyarakat shalih dalam al-qur’an (49/1-13)
Ada beberapa poin yang akan mengisi pembahasan ini, di antaranya:
A. ayat
B. tafsir surah al hujuraat ayatc1-13
C. karasteristic masyarakat shaleh
D. pelajaran pelajaran
A. Ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3) إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (4) لَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6) وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8) وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (9) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (11) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12) يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13
B. tafsir surah al-Hujurât ayat 1-13
surat Madaniyyah dengan nama al-Hujurât (kamar-kamar) yang juga desebut dengan al-akhlak, karena berisikan tentang akhlak ber’amal, berbicara, menerima berita, persaudaraan dan lainnya.
Allah memanggil dengan panggilan kemuliaan [yâ ayyuha] dengan menyebut [Âmanû] kepada orang beriman yang siap menerima dan mendengar perintah, karena ada informasi penting bagi kehidupan manusia pada umumnya, imformasi yang berhubungan dengan etika dalam membangun kehidupan bersama yang ingin disampaika oleh Allah, di antaranya:
- jangan memdahului Allah dan RasulNya [ Lâ tuqaddmû] artinya jangan melakukan apa yang tidak di perintahkan oleh Allah dan RasulNya, atau jangan melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasul.
- jangan mengeraskan suarmu melebihi suara Rasul [Lâ tarfa’û] artinya mengeraskan suara melebihi suara Rasul, tentunya arti ini berlaku ketika Rasul berada pada satu majelis dengan yang berbicara atau pada saat Rasul masih hidup, arti yang lain jangan mengatakan sesuata yang tidak di katakana Rasul, karena ketika seseorang berani mengatakan sesuatu seakan-akan ia mempunyai landasan dari Rasul.
- perintah melakukan klarifikasi terhadap berita [fatatsabbatû] pada umumnya, apalagi jika berita tersebut berasal dari sumber yang diragukan.
- jangan menghina dan merendahkan orang lain [Lâ yaskhor]
- jangan memanggil dengan panggilan penghinaan [Lâ talmizû]
- perintah menjauhi prasangka dan praduga [Ijtanibû]
- jangan menjadi mata-mata [tajassasû] dan mencari-cari kesalahan orang
- jangan gossip [Lâ yaghtab], dalam arti umum gossip adalah membicarakan orang lain, dalam membicarakan orang lain ini di bedakan antara gossip dengan fitnah. Jika pembicaraan tentang perbuatan atau pribadi orang lain tersebut betul-betul terjadi dan dilakukan oleh orang tersebut, maka pembicaraan tersebut di sebut gossip (ghibah), dan jika tidak dilakukan maka pembicaraan tersebut disebut fitnah.
- Realita kehidupan untuk membangun dan menciptakan kesuksesan dan peradaban mulai dari [Lita’ârafû]pengetahuan, networking sampai tercpainya kehidupan yang baik (taqwa).
C. karasteristic masyarakat shâleh
- Tidak melakukan suatu perbuatan tanpa dasar.
- Tidak asal bicara, dan jika berbicara menjaga etika komunikasi.
- Tidak menerima dan terpengaruh dengan informasi, dan dalam hal yang tidak jelas akurasinya, maka melakukan klarifikasi.
- Menjauhi terjadinya perbedaan hingga pertikaian yang mengakibatkan kerugian dan penyesalan.
- Menggalakkan terwujudnya persaudaraan dan hidup dengan suasana ramah serta kasih sayang.
- Menghindari sampai meninggalkan penghinaan antara satu dengan yang lain, juga panggilan-panggilaan nama yang tidak pantas.
- Terhindarnya perbuatan mata-mata, permusuhan dan gossip.
- Terbangunnya suasana kehidupan yang kondusif untuk membangungun kemuliaan dan ketakwaan.
D. pelajaran pelajaran
- Ketidakmampuan mengendalikan omongan, komentar dan pembicaraan menyebabkan amal menjadi sia-sia.
- Percaya kepada berita tanpa membiasakan budaya klarifikasi mengakibatkan penyesalan dan terjadinya pertengkaran mulai tingkat keluarga sampai pertempuran pada tingkat masyarakat dan Negara.
- Penghinaan terhadap sesama hukumnya haram dan menyebabkan murka Allah.
- Realita social dan kehidupan menunjukkan hiteroginitas, sehingga mengharuskan adanya kemampuan untuk membangun silaturrahim (networking) dengan seluruh elemen untuk mencapai pengetahuan dan terbangunnya suasana ketakwaan.
Minggu, 19 September 2010
Sabtu, 18 September 2010
Langkah-langkah syetan dalam menyesatkan manusia (2/208)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)
Ada beberapa poin yang mengisi pembahasan ini, di antaranya:
a. ayat
b. makna syetan
c. tafsir 2/208
d. korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syeta
e. langkah-langkah syetan
f. pelajaran-pelajaran
A. Ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)
B. Makna syetan
Dari “ syathona” artinya jauh, yang dimaksud adalah jauh dari kebenaran, atau dari “syâtho” artinya batal atau rusak. Secara terminologi setiap daya dan kekuatan pembangkangan baik dari manusia, binatang dan termasuk jin di sebut syaithan.
C. Tafsir 2/208
Posisi ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tipe dan ragam manusia, ada model yang antara lahir dan batinnya berbeda, dan ada pula yang menjual kehidupannya hanya utuk pengabdian kepada Allak, maka bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan manusia. Dalam ayat ini Allah meletakkan pondasi dengan memulai panggilan kehormatanNya [yâ ayyuha] kepada semua orang beriman agar masuk kedalam islam secara menyeluruh [kâffah] lahir batin, akidah syari’ah, ibadah dan akhlak, dan tidak mengikuti langkah-langkah syetan, Karena syetan adalah musuh bagi mereka. Kata [خطوات] bentuk banyak (jama’) dari [خطوة], secara bahasa artinya langkah atau jengkal. Penggunaanya berbentuk arti banyak (jama’) ini menunjukkan bahwa cara dan gaya syetan dalam rangka menyesatkan manusia itu banyak ragamnya.
Keharusan masuk ke dalam Islam secara keseluruhan ini menunjukkan bahwa siapasaja orangnya agar mempelajari kandungannya, karena tanpa tahu kandungan Islam, maka tidak dimungkinkan untuk masuk Islam secara keseluruhan. Semua orang beriman dalam setiap shalat mengikrarkan :”Sesungguhnya shalatku, aktifitasku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah tuhan semesta alam”, ini menunjukkan keharusan untuk mengislamkan semua itu. Dan berart harus mengetahui semua cabang-cabang tersebut.
Langkah-langkah syetan dalam menyesatkan manusia adalah dengan memasuki seluruh wilayah kerja manusia, semua yang baik apalagi yang burknya. Dengan cara
a. Tadhlîl atau menyesatkan
b. Tasywîh atau membuat rancu di penglihatan manusia
c. Takhwîf atau menakut-nakuti
d. Tauîd atau mengancam
e. Tazyîn atau menghiasi kejelekan menjadi kelihatan bagus
f. Merangsang dan memprovokasi
D. Korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syetan.
Berkumpulnya dua perintah yang berlawanan dalam satu ayat -perintah positif untuk melakukan tindakan dan perintah negative jangan melakukan tindakan- menunjukkan suatu hubungan yang kuat dan sempurna. Perintah masuk Islam secara keseluruhan berarti melarang meninggalkan meskipun sekecil apapun bagian dari Islam, dan apabila ada sebagian dari ajaran Islam yang ditinggalkan berarti ia telah mengikuti langkah syetan.
E. Langkah-langkah syetan
Dalam al-qur’an ada beberapa ayat yang menyebutkan perbuatan syetan yaitu: memerintah perbuatan keji dan munkar, mengatakan apa yang tidak dikatakan Allah dan taqlid kepada nenek moyang, menghiasi, membuat ragu, membisiki, Qotâdah berkata: “setiap kemaksiatan adalah langkah syetan”.
F. Pelajaran-pelajaran
- Adanya keharusan untuk mempelajari islam, karena tidak mungkin memasuki secara keseluruhan apabila tidak mengetahui kandungannya secara keseluruhan pula.
- Adanya keharusan untuk masuk islam secara keseluruhan dalam arti melaksanakan semua ajaran islam, tentunya ini terkait dengan pengetahuan, karena suatu aturan yang sudah dimengerti jika tidak dilaksanankan atau suatu aturan jika tidak dimengerti atau diketahui, maka dengan sendirinya aturan tersebut akan hilang.
- Adanya keharusan untuk tidak mengikuti ajakan dan langkah-langkah syetan, karena dengan mengikuti ajakan syetan dan langkahnya maka arti kesempurnaan islam menjadi hilang, sebab jika sesuatu itu sempurna, maka konsekuensinya tidak membutuhkan yang lain dan dengan mengikuti ajakan dan langkah syetan berarti orang sudah melakukan pelanggaran.
- Syetan adalah musuh manusia, maka anjurannya adalah memposisikan musuh sebagai musuh dan bukan sebagai mitra.
- Perlu sosialisasi Islam secara kontinyu
- Perlu menggalakkan pengajian dan sarana mengkaji Islam diseluruh lapisan masyarakat dan seluruh wilayah
- Menggalakkan kepedulian kepada sesame agar meningkat taraf hidup secara keseluruhan kususnya dalam hal keperpihakan pada pelaksanaan ajaran Islam
Ada beberapa poin yang mengisi pembahasan ini, di antaranya:
a. ayat
b. makna syetan
c. tafsir 2/208
d. korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syeta
e. langkah-langkah syetan
f. pelajaran-pelajaran
A. Ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)
B. Makna syetan
Dari “ syathona” artinya jauh, yang dimaksud adalah jauh dari kebenaran, atau dari “syâtho” artinya batal atau rusak. Secara terminologi setiap daya dan kekuatan pembangkangan baik dari manusia, binatang dan termasuk jin di sebut syaithan.
C. Tafsir 2/208
Posisi ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tipe dan ragam manusia, ada model yang antara lahir dan batinnya berbeda, dan ada pula yang menjual kehidupannya hanya utuk pengabdian kepada Allak, maka bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan manusia. Dalam ayat ini Allah meletakkan pondasi dengan memulai panggilan kehormatanNya [yâ ayyuha] kepada semua orang beriman agar masuk kedalam islam secara menyeluruh [kâffah] lahir batin, akidah syari’ah, ibadah dan akhlak, dan tidak mengikuti langkah-langkah syetan, Karena syetan adalah musuh bagi mereka. Kata [خطوات] bentuk banyak (jama’) dari [خطوة], secara bahasa artinya langkah atau jengkal. Penggunaanya berbentuk arti banyak (jama’) ini menunjukkan bahwa cara dan gaya syetan dalam rangka menyesatkan manusia itu banyak ragamnya.
Keharusan masuk ke dalam Islam secara keseluruhan ini menunjukkan bahwa siapasaja orangnya agar mempelajari kandungannya, karena tanpa tahu kandungan Islam, maka tidak dimungkinkan untuk masuk Islam secara keseluruhan. Semua orang beriman dalam setiap shalat mengikrarkan :”Sesungguhnya shalatku, aktifitasku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah tuhan semesta alam”, ini menunjukkan keharusan untuk mengislamkan semua itu. Dan berart harus mengetahui semua cabang-cabang tersebut.
Langkah-langkah syetan dalam menyesatkan manusia adalah dengan memasuki seluruh wilayah kerja manusia, semua yang baik apalagi yang burknya. Dengan cara
a. Tadhlîl atau menyesatkan
b. Tasywîh atau membuat rancu di penglihatan manusia
c. Takhwîf atau menakut-nakuti
d. Tauîd atau mengancam
e. Tazyîn atau menghiasi kejelekan menjadi kelihatan bagus
f. Merangsang dan memprovokasi
D. Korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syetan.
Berkumpulnya dua perintah yang berlawanan dalam satu ayat -perintah positif untuk melakukan tindakan dan perintah negative jangan melakukan tindakan- menunjukkan suatu hubungan yang kuat dan sempurna. Perintah masuk Islam secara keseluruhan berarti melarang meninggalkan meskipun sekecil apapun bagian dari Islam, dan apabila ada sebagian dari ajaran Islam yang ditinggalkan berarti ia telah mengikuti langkah syetan.
E. Langkah-langkah syetan
Dalam al-qur’an ada beberapa ayat yang menyebutkan perbuatan syetan yaitu: memerintah perbuatan keji dan munkar, mengatakan apa yang tidak dikatakan Allah dan taqlid kepada nenek moyang, menghiasi, membuat ragu, membisiki, Qotâdah berkata: “setiap kemaksiatan adalah langkah syetan”.
F. Pelajaran-pelajaran
- Adanya keharusan untuk mempelajari islam, karena tidak mungkin memasuki secara keseluruhan apabila tidak mengetahui kandungannya secara keseluruhan pula.
- Adanya keharusan untuk masuk islam secara keseluruhan dalam arti melaksanakan semua ajaran islam, tentunya ini terkait dengan pengetahuan, karena suatu aturan yang sudah dimengerti jika tidak dilaksanankan atau suatu aturan jika tidak dimengerti atau diketahui, maka dengan sendirinya aturan tersebut akan hilang.
- Adanya keharusan untuk tidak mengikuti ajakan dan langkah-langkah syetan, karena dengan mengikuti ajakan syetan dan langkahnya maka arti kesempurnaan islam menjadi hilang, sebab jika sesuatu itu sempurna, maka konsekuensinya tidak membutuhkan yang lain dan dengan mengikuti ajakan dan langkah syetan berarti orang sudah melakukan pelanggaran.
- Syetan adalah musuh manusia, maka anjurannya adalah memposisikan musuh sebagai musuh dan bukan sebagai mitra.
- Perlu sosialisasi Islam secara kontinyu
- Perlu menggalakkan pengajian dan sarana mengkaji Islam diseluruh lapisan masyarakat dan seluruh wilayah
- Menggalakkan kepedulian kepada sesame agar meningkat taraf hidup secara keseluruhan kususnya dalam hal keperpihakan pada pelaksanaan ajaran Islam
Selasa, 14 September 2010
PERUBAHAN QS 13; 11
حتى يغيروا ما بانفسهم ...
Sehingga mereka merobah apa yang ada pada jiwa(dada) mereka
Yang ada dalam dada adalah ide, pikiran pemahaman dan pardigma. tampilaamu adalah potret dari ide, pikiran, pemahaman dan paradigmam. jika tampilan indah maka yang ada di dalam dada adalah indah. perubahan luar bermula dari dari merubah yang ada di dalam dada. setiap penyembahan berhala, maka ada berhala di dalam dada. interrior dan desine yang mengagumkan berarti yang didalam dada indah dan mengagumkan. ciptaan Allah indah, besar, mengagumkan dsb, maka Allah maha indah, maha mengagumkan dan maha besar. anda ingin sukses maka sukseslah dalam merubah yang di dadamu. anda ingin jadi orang besar maka jadikanlah yang di dadamu besar.
Sehingga mereka merobah apa yang ada pada jiwa(dada) mereka
Yang ada dalam dada adalah ide, pikiran pemahaman dan pardigma. tampilaamu adalah potret dari ide, pikiran, pemahaman dan paradigmam. jika tampilan indah maka yang ada di dalam dada adalah indah. perubahan luar bermula dari dari merubah yang ada di dalam dada. setiap penyembahan berhala, maka ada berhala di dalam dada. interrior dan desine yang mengagumkan berarti yang didalam dada indah dan mengagumkan. ciptaan Allah indah, besar, mengagumkan dsb, maka Allah maha indah, maha mengagumkan dan maha besar. anda ingin sukses maka sukseslah dalam merubah yang di dadamu. anda ingin jadi orang besar maka jadikanlah yang di dadamu besar.
Kamis, 09 September 2010
Al qur'an (Pembangunan komprehensif)
PEMBANGUNAN KOMPREHENSIF dan BERKELANJUTAN
Oleh Dr. KH. Ali Akhmadi Lc MA alhafizh
الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر
كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لااله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده واعز جنده وهزم الاحزاب وحده ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون
لااله الا الله الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
واشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله اللهم فصل وسلم على هذا النبي الكريم وعلى اله واصحابه واهل بيته ومن سار على نهجه الى يوم الدين.
اما بعد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Takbir menggema membelah angkasa membesarkan nama Allah, lantunan tahmid taysakkur memuji kemahakasih sayang Allah SWT kepada alam ini membahana memenuhi jagad raya, rangkaian tasbih sambung-menyambung menandai rasa tunduk dan kesucian hati.
Hari ini adalah hari penuh kebahagian, bagi semua hamba Allah yang telah menunaikan ketaatan kepadaNya. Hari kemenangan bagi mereka yang telah berjihad menahan diri selama sebulan penuh dari segala hal yang dihalalakan di siang hari. Hari kebangkitan bagi mereka yang telah rukuk dan sujud sepanjang malam selama satu bulan penuh. Hari kesucian bagi mereka yang telah menunaikan zakat fitrah dan pengorbanan lainnya. Hari rioh renyah, gegap gempita senang gembira menekpresikan kemenangan dalam kehangatan silaturrahim keseluruh wilayah desa, kota, darat, laut, udara. Memenuhi jalan-jalan, lorong-lorong, terminal, setasiun dan lapangan terbang di negeri tercinta ini (mudik nasional). Suatu pergerakan kehidupan positif, perpindahan ekonomi dari kota ke desa, tersambungnya hubungan satu dengan yang lain dan terbukanya sumbatan-sumbatan kehidupan. Kerja social bergerak cepat secara menyenyeluruh dari transportasi pribadi dan umum serta sarana jalan, menata interior rumah, kota, dan sector-sektor social lainnya, terasa dan terlihan kehidupan begitu semangat enerjik dan menjanjikan.
Hari yang menjadi tonggak sejarah untuk memulai hidup baru كيوم ولدته امه , hidup yang telah dibekali dengan bekal yang komprehensif, ketakwan yang berarti kesiapan untuk melakukan pembangunan.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Hidup adalah ibadah. Ibadah adalah berbuat, berekspresi, memprodoksi dan mengerakkan kehidupan. Ibadah adalah membangun kehidupan.
Membangun adalah kewajiban dan kebutuhan dalam kehidupan kita ini, baik sekala pribadi ataupun keluarga, masyarakat an dan bangsa. Ummat muslim di negeri tercinta ini menempati jumlah terbanyak dari seluruh penduduk yang ada, kuranglebih 171 jutaan manusia. Merupakan modal positif jika mempunyai pandangan dan pemahaman yang positif pula, jika seluruh rakyat Indonesia bergerak dan bersepakat untuk membangun, maka kehidupan akan berobah, bangsa akan mulia dan nilai tawar negarakita akan imbang bahkan naik dalam kancah perbincangan regional sampai internasional.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Allah memnjanjikan kepada orang beriman dan pekerja keras kepemimpinan dan kemapanan dalam kehidupan, serta kemudahan dalam semua urusan (di ridhaiNya)juga keamanan” (an-Nur 55)
Membangun adalah keharusan dan kebutuhan, meski demikian harus di ketahui bahwa pembangunan ada yang bersifat komprehensif dan ada yang parsial, ada yang temporal incidental dan ada yang berkelanjutan berkesinambungan. Kita sebagai bangsa harus tahu betul pekerjaan dan pembangunan seperti apa yang kita btuhkan, yang kita berikan dan hadiahkan kepada bangsa ini, yang di duga kuat mampu mengatasi dan menjawab permasalahan bangsa sebesar bangsa Indonesia yang mempunyai permasalahan yang komplek. Kaedah dan rumusan dalam hal pembangunan tidak mengenal pilihan, tergambar dalam perkataan A’li bin Abi Talib yang artinya : “..Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini” إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “..yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling berkualitas” (al Hujurat 13).
Bangsa yang sedang mensyukuri kemenangannya ini, sadar dan paham akan kondisinya, problematika datang silih berganti, bertubi tubi seakan tak pernah henti, tiada sector kehidupansosial, kecuali di sana ada segudang permasalahan, sebut transportasi, perumahan, ekonomi, keamanan, pelayanan public, moral dan pendidikan dan kondisi bencana. Anak cucu dan generasi mendatang menunggu keputusan kita yang tepat, berani dan solutif. Dengan kesadaran dan pemahaman seperti ini maka bangsa ini tidak akan main-main, menyia-nyiakan umur, tenaga dan kesempatan untuk bertindak sigap berani dan tepat dalam membangun bangsa yang koprehensif dan berkelanjutan. Hanya dengan kata “LEBIH BAIK” yang akan menyelamatkan kehidupan bangsa ini. Lebih baik berarti lebih berkualitas dalam bobot dan mutunya. Berarti lebih menyentuh perasaan yang memberi rasa aman tenteram dan tenang. Berarti merambah kepada sarana dan prasarana kehidupan social yang baik dan memadai dari yang primer hingga yang sekunder. Berarti dalam pemerataan pada semua manusia yang membawa kwarganegaraan Negara Ripublik Indonesia hingga terselamatkannya ekosistim kehidupan alam. Berarti terlindungi dan terjaganya hargadiri bangsa dan kedaulatan serta utuhnya wilayah yang dimiliki bangsa ini.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Ramadhan menghampiri alam semesta dan kususnya bangsa ini, jika dilihat dari kacamata yang lebih luas – bukan semata-mata ibadah- merupakan anugerah besar dan kasihsayang Allah kepada ciptaanNya. Dengan pengetahuanNya yang luas terhadap bangsa ini, Allah menghadiahkan event (kesempatan) training menyeluruh (comprehensive trinning). Di dalamnya ada pembiasaan terhadap perbuatan, ada loyalitas meninggalkan kesenangan, ada keseragaman tindakan dan sikap, ada kebersamaan dan kekompakan, ada pengisian intelektualitas, ada kesatuan komando (saat azan magrib dan imsak), ada semangat kuat dari peserta untuk lulus (pintu ar Rayyan, magfirah, rahmah dam pembebasan diri dari neraka) dan ada pelipatan dan akselerasi (terbatasnya waktu dan malam lailatul qadar). Semua ini adalah modal mahal untuk melewati dan mengubur kehidupan yang telat dan lambat, kehidupan yang kedodoran dan lesu menyambut hari esok
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “..kalulah bukan karena kemurahan dan kasihsayang Allah dalam kehidupan sekarang ini dan nanti (akhirat), niscaya kalian akan terjerat dan terbelenggu, dan kalian tidak akan selamat dari siksaan (an Nur 14). Dari pelajaran ini bangsa kita dapat mengambil inspirasi dalam menentukan pilar-pilar pembangunan yang seharusnya dipilih dan dilakukan. Karena bangsa yang sadar akan tugas dan perannya, sadar akan dirinya yang mempunyai banyak masalah , sadar akan kebesarannya diantara bangsa-bangsa lain, tidaka salah dalam menentukan pilihan لا يلدغ المؤمن من جحر واحد مرتين (..orang mukmin (besar) tidak salah untuk yang kedua kali ) al Bukhari. Dengan demikian, pembangunan komprihensif dan berkelanjutan yang menjadipilihan kita berdiri diatas pilar-pilar:
- Pilar spiritualitas. Keimanan dan kerohanian merupakan pilar penting dalam gerakan penyelamatan (save movement), karena seluruh kekuatan tidak muangkin ada tanpa bergantung kepada yang maha kuat, karena أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (..sesungguhnya semua kekuatan adalah milik Allah) al baqarah 165, dan yang sangat popular di masyarakat awam dan itu benar adalah لا حول ولا قوة إلا بالله (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah). Manusia minimal terdiri dari 2 dimensi, rohani dan fisik, dimensi rohani mendahului dimensi fisik dalam penciptaannya, maka penguatan dan kekuatan rohani adalah tetap beradanya pada dimensinya yaitu iman dan lezat berkomunikasi dengan Allah, dengan disiplin beribadah dan berdo’a sesuai dengan aturan, maka akan menimbulakan kekuatan sepiritual yang ajaib serta menjaga arah pembangunan yang di canangkan agar tetap pada kebenaran sampai berhasil. Penafian sepiritualitas dan hanya mengandalkan kekuatan fisik, bila berhasil untuk sementara namun kebinasaan telah menyusulnya أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا (..adakah ia tidak mengetahui ahwa Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh mempunyai sumberdaya) al qashas 78. Di sini pentungnya pilar keimanan disamping yang lainnya yang di tempatkan pada porsi dan posisinya.
- Pilar realitas. Realitas social kita menjadi pilar penting untuk model dan arah pembangunan kita. Masyarakat yang dalam kenyataannya masih belum mampu secara ekonomi, yang terdiri dari multi rasial dan etnis, terdiri dari banyak pulau yang berjauhan, realitas pedesaan dan perkotaan yang jomplang, realitas banyaknya organisasi, prtai dan paguyuban-paguyuban. Maka pembangunan yang kita laksanankan adalah pembangunan yang mampu menjaga, melestarikan, mengembangkan, meluruskan, meningkatkan, mensinergikan dan memenej agar menjadi kekuatan positif produktif dan terciptanya aturan-aturan yang ditaati yang tidak mengekang dan membelenggu.
- Pilar kebutuhan. Pembangunan yang komprehensif dan berkesinambungan harus menyentuh dan menjawab kebutuhan dasar dan mendasar saat ini, tidak menggarap dan mengerjakan sesuatu yang jauh dari prioritas, dimulai dari kebutuhan pembangunan moralitas bangsa, tujuan inti diutus Muhammad adalah membangun moralitas انما بعث لاتمم مكارم الاخلاق “ Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Ukuran suatu bangsa dilihat moralitasnya
- انما الاخلاق ما بقيت وان ذهبت اخلاقهمو ذهبوا
“Sesungguhnya suatu bangsa dianggap ada jika mereka bermoral, jika moralitasnya hilang maka hilanglah esensi suatu bangsa”. Masing-masing alumni Ramadhan melihat bagaimana moral bangsa kita ini.
- Pilar keadilan. Pembangunan harus menyentuh semua lapisan masyarakat, tidak pilih kasih. Menumbuhkan kasih sayang kepada orang lemah yang jika terkena kasus mereka tidak mampu membayar pengacara dan tidak tahu cara menempuh hokum yang ada hanya bingung. Memperlakukan semua warga dan anggota masyarakat berdasarkan norma dan aturan yang baku. Yang tua di muliakan. Yang berjasa dan prosuktif di beri penghormatan (reword), Yang salah setelah terbukti dengan proses yang benar di adili dan dilaksanakan dengan baik. Manusia semua di hadapan Allah dan di hadapan hokum. “Tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah.. salah satunya adalah pemimpin yang adil” al Bukhari.
- Pilar pemerataan dan ketercukupan. Pembangnan dipastikan menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan merata dan setiap orang dipastikan mendapatkan haknya dan merasakan dari dampak pembangunan itu secara cukup minimal kebutuhan primernya, kebutuhan pokoknya. Dari pelosok desa, pegunungan sampai perkotaan adalah hamba Allah, adalah warga Negara, adalah nyawa yang harus di muliakan.
Pembangunan yang demikian di atas pilar-pilar ini yang harus di usung oleh para pemimpin bangsa sehingga secara bertahap tapi pasti akan tercipta sebuah sistim yang mapan dan berjalan secara berkelanjutan. Dengan jiwa besar dan menjadi bangsa besar harus berani meninggalkan berpikir, berprilaku yang egois, parsial apalagi distrutif. Hal ini semua dibutuhkan kesadaran bersama. Dengan momentum Ramadhan dan kembalinya semua hamba Allah kepada kesuciannya di harapkan mampu merumuskan suatu pembangunan yang mampu menyelesaikan masalah bangsa.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Bangsa besar adalah modal yang besar, namun membutuhkan pemikiran, tindakan dan pembangunan yang besar besar pula. Merupakan kewajiban dan tanggungjawab semua pihak untuk mengambil langkah serius dalam urusan bangsa ini “setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya atas kepemimpinannya”
Kaum muslimin/mat yang di muliakan Allah
Mari kita bermunajat kepada Allah zat yang maha memberi, mengampuni, mengabulkan do’a. zat yang maha menolong, semoga kita semua dan bangsa kita bersama umat muslim dunia mendapat pertolongan dan bimbinganNya selalu
اللهم صل على محمد وعلى ال محمد
الحمد لله رب العالمين
يا الله يا رحمن, نسالك بكل اسم هو لك..ان تتقبل منا شهر رمضان, اللهم تقبل صلاتنا...
اللهم اغفر لنا في جمعنا (مرات) اللهم اعتق رقابنا من النار (مرات) الهم اعتق رقابنا ورقاب اباءنا...
اللهم اعفر للمسلمين والمسلمات...
اللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التى فيها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر. اللهم اصلح قادتنا وولاة امورنا وشعبنا وخذ نواصيهم بيدك الى خير.
اللهم الف بين قلوبنا ووحد صفوفنا واجمع كلمتنا واعز الاسلام وانصر المسلمين واجعل بلدتنا هذه امنة مطمئنة وسائر بلاد المسلمين
اللهم لا تدع لنا ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته دينا الا قضيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة الا قضيتها يا ارحم الرحمين
اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا
Oleh Dr. KH. Ali Akhmadi Lc MA alhafizh
الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر
كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لااله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده واعز جنده وهزم الاحزاب وحده ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون
لااله الا الله الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
واشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله اللهم فصل وسلم على هذا النبي الكريم وعلى اله واصحابه واهل بيته ومن سار على نهجه الى يوم الدين.
اما بعد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Takbir menggema membelah angkasa membesarkan nama Allah, lantunan tahmid taysakkur memuji kemahakasih sayang Allah SWT kepada alam ini membahana memenuhi jagad raya, rangkaian tasbih sambung-menyambung menandai rasa tunduk dan kesucian hati.
Hari ini adalah hari penuh kebahagian, bagi semua hamba Allah yang telah menunaikan ketaatan kepadaNya. Hari kemenangan bagi mereka yang telah berjihad menahan diri selama sebulan penuh dari segala hal yang dihalalakan di siang hari. Hari kebangkitan bagi mereka yang telah rukuk dan sujud sepanjang malam selama satu bulan penuh. Hari kesucian bagi mereka yang telah menunaikan zakat fitrah dan pengorbanan lainnya. Hari rioh renyah, gegap gempita senang gembira menekpresikan kemenangan dalam kehangatan silaturrahim keseluruh wilayah desa, kota, darat, laut, udara. Memenuhi jalan-jalan, lorong-lorong, terminal, setasiun dan lapangan terbang di negeri tercinta ini (mudik nasional). Suatu pergerakan kehidupan positif, perpindahan ekonomi dari kota ke desa, tersambungnya hubungan satu dengan yang lain dan terbukanya sumbatan-sumbatan kehidupan. Kerja social bergerak cepat secara menyenyeluruh dari transportasi pribadi dan umum serta sarana jalan, menata interior rumah, kota, dan sector-sektor social lainnya, terasa dan terlihan kehidupan begitu semangat enerjik dan menjanjikan.
Hari yang menjadi tonggak sejarah untuk memulai hidup baru كيوم ولدته امه , hidup yang telah dibekali dengan bekal yang komprehensif, ketakwan yang berarti kesiapan untuk melakukan pembangunan.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Hidup adalah ibadah. Ibadah adalah berbuat, berekspresi, memprodoksi dan mengerakkan kehidupan. Ibadah adalah membangun kehidupan.
Membangun adalah kewajiban dan kebutuhan dalam kehidupan kita ini, baik sekala pribadi ataupun keluarga, masyarakat an dan bangsa. Ummat muslim di negeri tercinta ini menempati jumlah terbanyak dari seluruh penduduk yang ada, kuranglebih 171 jutaan manusia. Merupakan modal positif jika mempunyai pandangan dan pemahaman yang positif pula, jika seluruh rakyat Indonesia bergerak dan bersepakat untuk membangun, maka kehidupan akan berobah, bangsa akan mulia dan nilai tawar negarakita akan imbang bahkan naik dalam kancah perbincangan regional sampai internasional.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Allah memnjanjikan kepada orang beriman dan pekerja keras kepemimpinan dan kemapanan dalam kehidupan, serta kemudahan dalam semua urusan (di ridhaiNya)juga keamanan” (an-Nur 55)
Membangun adalah keharusan dan kebutuhan, meski demikian harus di ketahui bahwa pembangunan ada yang bersifat komprehensif dan ada yang parsial, ada yang temporal incidental dan ada yang berkelanjutan berkesinambungan. Kita sebagai bangsa harus tahu betul pekerjaan dan pembangunan seperti apa yang kita btuhkan, yang kita berikan dan hadiahkan kepada bangsa ini, yang di duga kuat mampu mengatasi dan menjawab permasalahan bangsa sebesar bangsa Indonesia yang mempunyai permasalahan yang komplek. Kaedah dan rumusan dalam hal pembangunan tidak mengenal pilihan, tergambar dalam perkataan A’li bin Abi Talib yang artinya : “..Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini” إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “..yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling berkualitas” (al Hujurat 13).
Bangsa yang sedang mensyukuri kemenangannya ini, sadar dan paham akan kondisinya, problematika datang silih berganti, bertubi tubi seakan tak pernah henti, tiada sector kehidupansosial, kecuali di sana ada segudang permasalahan, sebut transportasi, perumahan, ekonomi, keamanan, pelayanan public, moral dan pendidikan dan kondisi bencana. Anak cucu dan generasi mendatang menunggu keputusan kita yang tepat, berani dan solutif. Dengan kesadaran dan pemahaman seperti ini maka bangsa ini tidak akan main-main, menyia-nyiakan umur, tenaga dan kesempatan untuk bertindak sigap berani dan tepat dalam membangun bangsa yang koprehensif dan berkelanjutan. Hanya dengan kata “LEBIH BAIK” yang akan menyelamatkan kehidupan bangsa ini. Lebih baik berarti lebih berkualitas dalam bobot dan mutunya. Berarti lebih menyentuh perasaan yang memberi rasa aman tenteram dan tenang. Berarti merambah kepada sarana dan prasarana kehidupan social yang baik dan memadai dari yang primer hingga yang sekunder. Berarti dalam pemerataan pada semua manusia yang membawa kwarganegaraan Negara Ripublik Indonesia hingga terselamatkannya ekosistim kehidupan alam. Berarti terlindungi dan terjaganya hargadiri bangsa dan kedaulatan serta utuhnya wilayah yang dimiliki bangsa ini.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Ramadhan menghampiri alam semesta dan kususnya bangsa ini, jika dilihat dari kacamata yang lebih luas – bukan semata-mata ibadah- merupakan anugerah besar dan kasihsayang Allah kepada ciptaanNya. Dengan pengetahuanNya yang luas terhadap bangsa ini, Allah menghadiahkan event (kesempatan) training menyeluruh (comprehensive trinning). Di dalamnya ada pembiasaan terhadap perbuatan, ada loyalitas meninggalkan kesenangan, ada keseragaman tindakan dan sikap, ada kebersamaan dan kekompakan, ada pengisian intelektualitas, ada kesatuan komando (saat azan magrib dan imsak), ada semangat kuat dari peserta untuk lulus (pintu ar Rayyan, magfirah, rahmah dam pembebasan diri dari neraka) dan ada pelipatan dan akselerasi (terbatasnya waktu dan malam lailatul qadar). Semua ini adalah modal mahal untuk melewati dan mengubur kehidupan yang telat dan lambat, kehidupan yang kedodoran dan lesu menyambut hari esok
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “..kalulah bukan karena kemurahan dan kasihsayang Allah dalam kehidupan sekarang ini dan nanti (akhirat), niscaya kalian akan terjerat dan terbelenggu, dan kalian tidak akan selamat dari siksaan (an Nur 14). Dari pelajaran ini bangsa kita dapat mengambil inspirasi dalam menentukan pilar-pilar pembangunan yang seharusnya dipilih dan dilakukan. Karena bangsa yang sadar akan tugas dan perannya, sadar akan dirinya yang mempunyai banyak masalah , sadar akan kebesarannya diantara bangsa-bangsa lain, tidaka salah dalam menentukan pilihan لا يلدغ المؤمن من جحر واحد مرتين (..orang mukmin (besar) tidak salah untuk yang kedua kali ) al Bukhari. Dengan demikian, pembangunan komprihensif dan berkelanjutan yang menjadipilihan kita berdiri diatas pilar-pilar:
- Pilar spiritualitas. Keimanan dan kerohanian merupakan pilar penting dalam gerakan penyelamatan (save movement), karena seluruh kekuatan tidak muangkin ada tanpa bergantung kepada yang maha kuat, karena أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (..sesungguhnya semua kekuatan adalah milik Allah) al baqarah 165, dan yang sangat popular di masyarakat awam dan itu benar adalah لا حول ولا قوة إلا بالله (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah). Manusia minimal terdiri dari 2 dimensi, rohani dan fisik, dimensi rohani mendahului dimensi fisik dalam penciptaannya, maka penguatan dan kekuatan rohani adalah tetap beradanya pada dimensinya yaitu iman dan lezat berkomunikasi dengan Allah, dengan disiplin beribadah dan berdo’a sesuai dengan aturan, maka akan menimbulakan kekuatan sepiritual yang ajaib serta menjaga arah pembangunan yang di canangkan agar tetap pada kebenaran sampai berhasil. Penafian sepiritualitas dan hanya mengandalkan kekuatan fisik, bila berhasil untuk sementara namun kebinasaan telah menyusulnya أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا (..adakah ia tidak mengetahui ahwa Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh mempunyai sumberdaya) al qashas 78. Di sini pentungnya pilar keimanan disamping yang lainnya yang di tempatkan pada porsi dan posisinya.
- Pilar realitas. Realitas social kita menjadi pilar penting untuk model dan arah pembangunan kita. Masyarakat yang dalam kenyataannya masih belum mampu secara ekonomi, yang terdiri dari multi rasial dan etnis, terdiri dari banyak pulau yang berjauhan, realitas pedesaan dan perkotaan yang jomplang, realitas banyaknya organisasi, prtai dan paguyuban-paguyuban. Maka pembangunan yang kita laksanankan adalah pembangunan yang mampu menjaga, melestarikan, mengembangkan, meluruskan, meningkatkan, mensinergikan dan memenej agar menjadi kekuatan positif produktif dan terciptanya aturan-aturan yang ditaati yang tidak mengekang dan membelenggu.
- Pilar kebutuhan. Pembangunan yang komprehensif dan berkesinambungan harus menyentuh dan menjawab kebutuhan dasar dan mendasar saat ini, tidak menggarap dan mengerjakan sesuatu yang jauh dari prioritas, dimulai dari kebutuhan pembangunan moralitas bangsa, tujuan inti diutus Muhammad adalah membangun moralitas انما بعث لاتمم مكارم الاخلاق “ Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Ukuran suatu bangsa dilihat moralitasnya
- انما الاخلاق ما بقيت وان ذهبت اخلاقهمو ذهبوا
“Sesungguhnya suatu bangsa dianggap ada jika mereka bermoral, jika moralitasnya hilang maka hilanglah esensi suatu bangsa”. Masing-masing alumni Ramadhan melihat bagaimana moral bangsa kita ini.
- Pilar keadilan. Pembangunan harus menyentuh semua lapisan masyarakat, tidak pilih kasih. Menumbuhkan kasih sayang kepada orang lemah yang jika terkena kasus mereka tidak mampu membayar pengacara dan tidak tahu cara menempuh hokum yang ada hanya bingung. Memperlakukan semua warga dan anggota masyarakat berdasarkan norma dan aturan yang baku. Yang tua di muliakan. Yang berjasa dan prosuktif di beri penghormatan (reword), Yang salah setelah terbukti dengan proses yang benar di adili dan dilaksanakan dengan baik. Manusia semua di hadapan Allah dan di hadapan hokum. “Tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah.. salah satunya adalah pemimpin yang adil” al Bukhari.
- Pilar pemerataan dan ketercukupan. Pembangnan dipastikan menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan merata dan setiap orang dipastikan mendapatkan haknya dan merasakan dari dampak pembangunan itu secara cukup minimal kebutuhan primernya, kebutuhan pokoknya. Dari pelosok desa, pegunungan sampai perkotaan adalah hamba Allah, adalah warga Negara, adalah nyawa yang harus di muliakan.
Pembangunan yang demikian di atas pilar-pilar ini yang harus di usung oleh para pemimpin bangsa sehingga secara bertahap tapi pasti akan tercipta sebuah sistim yang mapan dan berjalan secara berkelanjutan. Dengan jiwa besar dan menjadi bangsa besar harus berani meninggalkan berpikir, berprilaku yang egois, parsial apalagi distrutif. Hal ini semua dibutuhkan kesadaran bersama. Dengan momentum Ramadhan dan kembalinya semua hamba Allah kepada kesuciannya di harapkan mampu merumuskan suatu pembangunan yang mampu menyelesaikan masalah bangsa.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah
الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Bangsa besar adalah modal yang besar, namun membutuhkan pemikiran, tindakan dan pembangunan yang besar besar pula. Merupakan kewajiban dan tanggungjawab semua pihak untuk mengambil langkah serius dalam urusan bangsa ini “setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya atas kepemimpinannya”
Kaum muslimin/mat yang di muliakan Allah
Mari kita bermunajat kepada Allah zat yang maha memberi, mengampuni, mengabulkan do’a. zat yang maha menolong, semoga kita semua dan bangsa kita bersama umat muslim dunia mendapat pertolongan dan bimbinganNya selalu
اللهم صل على محمد وعلى ال محمد
الحمد لله رب العالمين
يا الله يا رحمن, نسالك بكل اسم هو لك..ان تتقبل منا شهر رمضان, اللهم تقبل صلاتنا...
اللهم اغفر لنا في جمعنا (مرات) اللهم اعتق رقابنا من النار (مرات) الهم اعتق رقابنا ورقاب اباءنا...
اللهم اعفر للمسلمين والمسلمات...
اللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التى فيها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر. اللهم اصلح قادتنا وولاة امورنا وشعبنا وخذ نواصيهم بيدك الى خير.
اللهم الف بين قلوبنا ووحد صفوفنا واجمع كلمتنا واعز الاسلام وانصر المسلمين واجعل بلدتنا هذه امنة مطمئنة وسائر بلاد المسلمين
اللهم لا تدع لنا ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته دينا الا قضيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة الا قضيتها يا ارحم الرحمين
اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا
Sabtu, 28 Agustus 2010
AL-QUR'AN- KATA I'TIKAF
I’TIKAF
القرآن :
1- أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِين 2\125
2- وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُم 7\126
3- قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى 20\91
4- قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِين 26\71
الحديث:
1- عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. (مسلم)
2- عن عائشة رضي الله عنها قالت
: كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله (البخاري)
3- عن عائشة
: أن النبي صلى الله عليه و سلم اعتكف معه بعض نسائه وهي مستحاضة ترى الدم فربما وضعت الطست تحتها من الدم . وزعم أن عائشة رأت ماء العصفر فقالت كأن هذا شيء كانت فلانة تجده
[ 1932 ] البخاري
4- قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ .مسلم
5- عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. مسلم
Al-Qur’an:
1- ..agar anda berdua membersihkan rumahKu untuk orang tawaf dan I’tikaf. 2/125
2- Dan ketika kami (Allah) telah menyebrangkan lautan kepada bani israil, mereka mendatangi kaum yang sedang berkerumun (menyembah) berhala mereka. 7/126
3- Mereka (kaum Musa as) berkata kami tidak akan berhenti berkerumun (menyembah) sampai Musa tiba. 20/91
4- Mereka (kaum Ibrahim as) berkata kami menyembah berhala dan kami akan tetap berkerumun menyembahnya.26/71
Al-hadis:
1- Dari A’isyah: Nabi ber I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai wafat, dan di lanjutkan para isterinya (Bukhari dan Muslim)
2- Dari A’isyah: Nabi ketika memaski sepuluh hari terakhir Ramadhan menyingsingkan pakaian (tanda sungguh-sungguh), menghidupkan malam dan membangunkan keluarga (al Bukhari)
3- Dari A’isyah: Sebagian isteri Nabi ikut ber I’tikaf dan ia dalam keadaan haid (al Bukhari)
4- Dari A’isyah: jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan Nabi serius tidak seperti biasanya (al Bukhari)
A- Kata “I’tikaf” popular baik dalam al Qur’an maupun Hadis.
B- Arti “I’tikaf” secara bahasa berkisar antara: serius, sungguh-sungguh, focus dan konsenterasi, berkerumun dan beribadah.
C- Dari arti bahasa, kata I’tikaf dapat di pakai pada amal atau perbuatan positi atau negative (terlarang)
D- Arti secara syari’ah: berdiam di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dengan niat
E- I’tikaf dapat tercapai meskipun hanya beberapa menit saja, seperti salat tahiyyah masjid dan selama mengikuti kajian yang bermanfaat
F- I’tikaf , hukumnya sunnah dan merupakan keutamaan dan salah satu cara meningkatkan derajat
G- Ber I’tikaf dapat dilakukan sendiri, keluarga dan bahkan dalam jumlah banyak
H- Ragam I’tikaf ada:
a. I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan
b. I’tikaf pada bulan Ramadhan
c. I’tikaf nazar (janji)
d. I’tikaf biasa dan kapan saja
I- Ber I’tikaf terkait dengan:
a. Tempat (masjid)
b. Suasana (kekhusyu an)
c. Program (mata acara)
d. Dan menejerial yang rapi
J- I’tikaf ada syrat, rukun, sunnah, makruh dan yang membatalkan (harap dikaji dan di tanyakan)
K- Untuk perempuan sangat di pertimbangkan manfaat dan madarratnya, harus mendapat dukungan dan izin suami di samping memperhatikan tempat I’tikafnya.
القرآن :
1- أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِين 2\125
2- وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُم 7\126
3- قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى 20\91
4- قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِين 26\71
الحديث:
1- عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. (مسلم)
2- عن عائشة رضي الله عنها قالت
: كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله (البخاري)
3- عن عائشة
: أن النبي صلى الله عليه و سلم اعتكف معه بعض نسائه وهي مستحاضة ترى الدم فربما وضعت الطست تحتها من الدم . وزعم أن عائشة رأت ماء العصفر فقالت كأن هذا شيء كانت فلانة تجده
[ 1932 ] البخاري
4- قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ .مسلم
5- عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. مسلم
Al-Qur’an:
1- ..agar anda berdua membersihkan rumahKu untuk orang tawaf dan I’tikaf. 2/125
2- Dan ketika kami (Allah) telah menyebrangkan lautan kepada bani israil, mereka mendatangi kaum yang sedang berkerumun (menyembah) berhala mereka. 7/126
3- Mereka (kaum Musa as) berkata kami tidak akan berhenti berkerumun (menyembah) sampai Musa tiba. 20/91
4- Mereka (kaum Ibrahim as) berkata kami menyembah berhala dan kami akan tetap berkerumun menyembahnya.26/71
Al-hadis:
1- Dari A’isyah: Nabi ber I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai wafat, dan di lanjutkan para isterinya (Bukhari dan Muslim)
2- Dari A’isyah: Nabi ketika memaski sepuluh hari terakhir Ramadhan menyingsingkan pakaian (tanda sungguh-sungguh), menghidupkan malam dan membangunkan keluarga (al Bukhari)
3- Dari A’isyah: Sebagian isteri Nabi ikut ber I’tikaf dan ia dalam keadaan haid (al Bukhari)
4- Dari A’isyah: jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan Nabi serius tidak seperti biasanya (al Bukhari)
A- Kata “I’tikaf” popular baik dalam al Qur’an maupun Hadis.
B- Arti “I’tikaf” secara bahasa berkisar antara: serius, sungguh-sungguh, focus dan konsenterasi, berkerumun dan beribadah.
C- Dari arti bahasa, kata I’tikaf dapat di pakai pada amal atau perbuatan positi atau negative (terlarang)
D- Arti secara syari’ah: berdiam di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dengan niat
E- I’tikaf dapat tercapai meskipun hanya beberapa menit saja, seperti salat tahiyyah masjid dan selama mengikuti kajian yang bermanfaat
F- I’tikaf , hukumnya sunnah dan merupakan keutamaan dan salah satu cara meningkatkan derajat
G- Ber I’tikaf dapat dilakukan sendiri, keluarga dan bahkan dalam jumlah banyak
H- Ragam I’tikaf ada:
a. I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan
b. I’tikaf pada bulan Ramadhan
c. I’tikaf nazar (janji)
d. I’tikaf biasa dan kapan saja
I- Ber I’tikaf terkait dengan:
a. Tempat (masjid)
b. Suasana (kekhusyu an)
c. Program (mata acara)
d. Dan menejerial yang rapi
J- I’tikaf ada syrat, rukun, sunnah, makruh dan yang membatalkan (harap dikaji dan di tanyakan)
K- Untuk perempuan sangat di pertimbangkan manfaat dan madarratnya, harus mendapat dukungan dan izin suami di samping memperhatikan tempat I’tikafnya.
Selasa, 10 Agustus 2010
panduan berpusa
PANDUAN BERPUASA
di tulis oleh : KH DR ALI AKHMADI MA AL HAFIZH
Panduan Puasa Ramadhan
A. Menentukan awal akhir Bulan Ramadhan
Bagaimana mengetahui kapan tamu Allah ini datang? Telah menjadi ketetapan syar’i bahwa cara untuk menentukan kapan waktu masuknya bulan Ramadhan adalah berdasarkan penanggalan Qomariyah sebagaimana pelaksanaan ibadah haji.
Firman Allah;
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; (QS. Al-Baqarah;189)
B. Dalil disyariatkan berpuasa di bulan Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah suatu ibadah yang telah diwajibkan hanya kepada orang-orang yang beriman terdahulu jauh sebelum datangnya Islam. Sedangkan bagi umat Islam ibadah ini baru diwajibkab pada tahun ke kedua hijriyah atau tahun ke lima belas kenabian Muhammad SAW yang pelaksanaannya adalah hanya pada hari-hari tertentu yang telah ditentukan secara syar’i.
Firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa” (QS. Al-Baqarah:183 ).
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa di antaramu menyaksikan (masuknya bulan ini) maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah:185).
“Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Ka’bah” ( HR. Bukhari-Muslim).
Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra., bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi Saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku”. Beliau bersabda: “Puasa Ramadhan”. Lalu orang itu bertanya lagi: Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku? Beliau bersabda: “Tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah”.
C. Makna puasa
Makna puasa menurut bahasa adalah menahan sesuatu, baik makanan minuman, kata-kata atau gerakan sedangkan menurut istilah adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa baik makan, minum, hubungan suami istri (jima’), dengan disertai niat mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
B. Rukun puasa
1. Menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbenam.
Allah SWT berfirman;
“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”, (QS. Al-Baqarah;187)
Yang dimaksud dengan benang putih dan hitam ini adalah putihnya siang dan hitamnya malam seperti hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim berikut ini. “Sesungguhnya Adi bin Hatim berkata, ketika turun ayat, “hingga jelas bagimu benang putih dan hitam”, aku mencari tali berwarna hitam dan tali berwarna putih lalu aku taruh dibawah bantalku. Malam hari aku melihatnya tetapi tidak tampak jelas tampak olehku. Aku lalu menemui Rasulallah SAW untuk menceritakan hal itu kepada beliau. Rasulullah SAW bersabda; sesungguhnya yang dimaksud ialah hitamnya malam dan dan putihnya siang”
2. Niat, niat adalah hukumnya fardhu, baik terhadap puasa maupun ibadah lainnya, yang dimaksud dengan niat dalam puasa ialah ketika seseorang hendak berpuasa terlintas dalam hatinya untuk melakukan puasa, karena hakekatnya niat itu adalah pekerjaan hati, dan tidak ada kaitannya dengan lisan. Namun jika seseorang yang hendak berpuasa melafalkan niat dengan lisannya, berarti ia adalah menterjemahkan apa yang ada dalam hati. sehingga, jika niat diucapkan dengan lisan berbeda dengan niat yang diucapkan dengan hati, maka yang diperhitungkan ialah niat yang ada dalam di hati. Adapun dalam ibadah tertentu, melafalkan niat dengan lisan adalah sangat dianjurkan.
Maka dari itu, orang bangun untuk makan sahur dan mempersiapkan segala sesuatunya, pada hakekatnya hal itu sudah merupakan niat, sebab ia melakukan semua itu karena ia berhasrat hendak puasa. Jadi hasrat itu sama dengan niat.
D. Syarat-syarat puasa
Secara umum, syarat-syarat puasa adalah bagi mereka yang telah dibebani secara syar’i, sebagaimana perincian berikut;
1. Islam, perintah puasa adalah hanya ditujukan kepada ummat manusia yang beriman, maka orang kafir tidak sah menjalankannya;
2. Baligh, puasa adalah dibebankan kepada mereka yang sudah berkewajiban untuk menjalankan perintah Allah SWT, sementara anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak wajib melakukan ibadah puasa, akan tetapi apabila ia berpuasa, maka hukumnya sah;
3. Berakal, berpuasa adalah sarana untuk membina diri agar lebih terprogram, membutuhkan kesadaran diri dan akal untuk menjalankannya, sehingga orang yang tidak berakal seperti gila, sakit ayan dan hilang akalnya tidak diwajibkan melakukan ibadah puasa;
4. Sehat dan bermukim, bagi mereka yang dalam keadaan sakit yang membahayakan jiwa atau sedang dalam perjalanan jauh yang bertujuan untuk kebaikan, maka puasa adalah tidak wajib baginya, akan tetapi harus menggantinya disuatu hari nanti jika diberi kesempatan;
5. Tidak sedang haid dan nifas. Bagi kaum muslimah yang sedang mengalami hal tersebut maka mereka tidak memenuhi syarat sahnya puasa, namun harus tetap menggantinya jika telah menyelesaikannya.
E. Sunah-sunah puasa
Selama bulan Ramadhan banyak sekali amaliyah sunnah yang bernilai pahala yang berlipat ganda, namun harus menjadi catatan bahwa tentunya tidak bisa mengganti keutamaan puasa di dalamnya.
1. Menyegerakan berbuka
“Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak melakukan shalat maghrib dulu sehingga ia berbuka, meskipun hanya seteguk air” (HR. At-Tirmidzi).
Dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Sahal bin Sa’ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: “Manusia (umat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk” (HR. Abu Daud dan Al-Hakiem).
Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Dari Ibnu Umar, Adalah Nabi Saw selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah (HR. Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)
Dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang)”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
2. Berbuka dengan beberapa butir kurma yang masih basah (ruthab).
Hal tersebut berdasarkan keterangan Anas bin Malik, “Rasulullah SAW biasa berbuka dengan menyantap beberapa butir ruthab sebelum shalat. Jika tidak ada maka dengan beberapa butir tamar. Dan jika tidak ada dengan meminum beberapa teguk air” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim dan Ad-Daruquthni)
3. Berdo’a menjelang berbuka;
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa saat berbuka tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)
4. Makan sahur dan mengakhirkan sahur,
Dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah”. (HR. Al-Bukhary)
Dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda: Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah”. (HR. An-Nasa’i).
Dari Zaid bin Tsabit ia berkata: “Kami bersahur bersama Rasulullah saw. lalu kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh )’. Saya berkata: Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)? Ia berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Amru bin Maimun, ia berkata: “Adalah para sahabat Muhammad Saw adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur”. (HR. Al-Baihaqi).
Telah bersabda Rasulullah SAW: “Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur) daripadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem).
Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: “Shalat telah diiqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra., ia bertanya: Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, lalu ia meminumnya” (HR Ibnu Jarir)
5. Memperbanyak do’a,
Tiga orang yang do’anya tidak ditolak oleh Allah SWT, orang yang berpuasa hingga berbuka, imam yang adil dan orang yang teraniaya” (HR. Tirmidzi)
6. Memperbanyak membaca Al-Qur’an,
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau Al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim”. (HR Al-Bukhary).
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an, keduanya akan memberi syafa’at di hari kiamat. Puasa berkata ya Allah aku telah mencegahnya makan dan nafsunya pada siang hari, maka berikanlah syafa’atku padanya. Al-Qur’an berkata, aku telah mencegah tidur dimalam hari, berikanlah syafa’atku kepadanya. Maka diterimalah syafa’at keduanya” (HR. Ahmad)
7. Bagi orang yang dijamu berbuka oleh orang lain, disunatkan untuk mendoakannya,
Dari Abdullah bin Zubair, ia berkata; Rasulullah SAW berbuka di rumah Saad bin Muadz. Beliau berdo’a; Berbuka dirumah kalian orang-orang yang berpuasa, makanan kalian dimakan oleh orang-orang yang berbakti, dan semoga malaikat membacakan shalawat atas kalian (HR. Ibnu Majah)
F. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Berhubungan suami istri di siang hari, bagi mereka yang melakukan hal ini maka harus menggantinya dengan berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa henti atau memberi makan satu fakir miskin selama enam puluh hari atau memberi enam puluh fakir miskin selama sehari.
2. Makan dan minum dengan sengaja sebelum waktu berbuka;
3. Muntah dengan sengaja;
4. Mengeluarkan mani (sperma) secara tidak lazim sebagai akibat pandangan, khayalan, ciuman dan sentuhan;
5. Haid dan nifas, kaum muslimah yang sedang menjalankan puasa kemudian tiba-tiba mengalami haid atau melahirkan, maka wajib hukumnya untuk membatalkan puasanya;
6. Tidak berniat puasa;
7. Murtad.
G. Hal-hal yang diperbolehkan saat berpuasa
1. Memakai celak dan obat tetes mata;
2. Memakai minyak di rambut atau di tubuh;
3. Suntik;
4. Berendam di air pada musim kemarau;
5. Menyuapi makanan untuk anak kecil dengan mulut;
6. Berbekam dan donor darah;
7. Menelan ludah.
G. Hal-hal yang makruh saat berpuasa
1. Mencicipi makanan, dan memakan makanan yang ada di sela-sela gigi;
2. Mengunyah ilk (semacam permen karet);
3. Berlebihan dalam berkumur dan beristinsaq
4. Hukum mencium istri, bersentuhan dan memikirkan masalah seksual bagi orang yang sedang berpuasa;
H. Menqadha’ Puasa
Dalam menqadha’ puasa yang ditinggalkan, lebih afdhalnya dikerjakan dengan segera. Dan dalam mengqada’ puasa tidak harus berturut-turut. Yang berhutang puasa karena tidak mampu puasa, seperti kakek tua atau orang sakit terus-menerus, lalu meninggal dunia, maka cukup dibayarkan fidyahnya dengan memberi makan satu orang miskin setiap hari sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan.
Adapun orang yang punya hutang puasa, dan mampu atau ada kesempatan untuk menqada’nya, lalu meninggal dunia, maka ahli warisnya wajib mengqada’nya. Seperti tersebut dalam sebuah hadist; “Barangsiapa meninggal dunia, dan dia punya hutang puasa, maka wali (ahli waris)-nya wajib berpuasa untuknya” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
I. Hal-hal yang memperbolehkan tidak berpuasa
Berpuasa adalah merupakan ibadah mahdah, yang tidak dapat digantikan kecuali ada udzur syar’i yang membolehkannya untuk tidak berpuasa, sebagai catatan, dikhawatirkan apabila meneruskan puasanya akan membahayakan dirinya atau orang yang menjadi tanggungannya. Diantara hal-hal yang secara syar’i diperbolehkan untuk tidak berpuasa diantaranya:
1. Sakit yang tidak memungkinkannya untuk berpuasa;
2. Bepergian;
3. Hamil dan menyusui;
4. Haid dan Nifas;
5. Sangat renta;
6. Tidak berpuasa karena dipaksa;
7. Takut mati atau kurang akal;
8. Berperang di jalan Allah;
9. Puasa sunat.
J. Hal-hal yang menghabiskan pahala puasa
Puasa adalah menahan diri, bukan hanya makan dan minum akan tetapi menahan seluruh anggota badan; mata, lisan, telinga, hati, kemaluan, pikiran dan anggota tubuh yang lain dari maksiyat. Maka apabila seseorang yang menjalankan puasa kemudian ia tidak mampu menahan diri dari maksiyat yang ditimbulkan oleh anggota badan tersebut maka nilai puasanya akan berkurang, bahkan bisa jadi seseorang tersebut tidak mendapatkan pahala puasanya selain lapar dan haus.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW; “Barang siapa yang tidak menahan diri dari ucapan dusta dan perbuatan buruk maka sedikitpun Allah tidak sudi menerima puasanya meskipun ia menahan diri dari makan dan minum.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadist yang lain, Nabi SAW bersabda: “Puasa bukanlah hanya meninggalkan makan dan minum, akan tetapi yang dimaksud puasa adalah menghindarkan diri dari kata-kata yang tidak berguna dan dusta. Maka jika ada orang yang mencelamu atau usil kepadamu, katakanlah saya sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).
di tulis oleh : KH DR ALI AKHMADI MA AL HAFIZH
Panduan Puasa Ramadhan
A. Menentukan awal akhir Bulan Ramadhan
Bagaimana mengetahui kapan tamu Allah ini datang? Telah menjadi ketetapan syar’i bahwa cara untuk menentukan kapan waktu masuknya bulan Ramadhan adalah berdasarkan penanggalan Qomariyah sebagaimana pelaksanaan ibadah haji.
Firman Allah;
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; (QS. Al-Baqarah;189)
B. Dalil disyariatkan berpuasa di bulan Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah suatu ibadah yang telah diwajibkan hanya kepada orang-orang yang beriman terdahulu jauh sebelum datangnya Islam. Sedangkan bagi umat Islam ibadah ini baru diwajibkab pada tahun ke kedua hijriyah atau tahun ke lima belas kenabian Muhammad SAW yang pelaksanaannya adalah hanya pada hari-hari tertentu yang telah ditentukan secara syar’i.
Firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa” (QS. Al-Baqarah:183 ).
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa di antaramu menyaksikan (masuknya bulan ini) maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah:185).
“Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Ka’bah” ( HR. Bukhari-Muslim).
Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra., bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi Saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku”. Beliau bersabda: “Puasa Ramadhan”. Lalu orang itu bertanya lagi: Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku? Beliau bersabda: “Tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah”.
C. Makna puasa
Makna puasa menurut bahasa adalah menahan sesuatu, baik makanan minuman, kata-kata atau gerakan sedangkan menurut istilah adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa baik makan, minum, hubungan suami istri (jima’), dengan disertai niat mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
B. Rukun puasa
1. Menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbenam.
Allah SWT berfirman;
“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”, (QS. Al-Baqarah;187)
Yang dimaksud dengan benang putih dan hitam ini adalah putihnya siang dan hitamnya malam seperti hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim berikut ini. “Sesungguhnya Adi bin Hatim berkata, ketika turun ayat, “hingga jelas bagimu benang putih dan hitam”, aku mencari tali berwarna hitam dan tali berwarna putih lalu aku taruh dibawah bantalku. Malam hari aku melihatnya tetapi tidak tampak jelas tampak olehku. Aku lalu menemui Rasulallah SAW untuk menceritakan hal itu kepada beliau. Rasulullah SAW bersabda; sesungguhnya yang dimaksud ialah hitamnya malam dan dan putihnya siang”
2. Niat, niat adalah hukumnya fardhu, baik terhadap puasa maupun ibadah lainnya, yang dimaksud dengan niat dalam puasa ialah ketika seseorang hendak berpuasa terlintas dalam hatinya untuk melakukan puasa, karena hakekatnya niat itu adalah pekerjaan hati, dan tidak ada kaitannya dengan lisan. Namun jika seseorang yang hendak berpuasa melafalkan niat dengan lisannya, berarti ia adalah menterjemahkan apa yang ada dalam hati. sehingga, jika niat diucapkan dengan lisan berbeda dengan niat yang diucapkan dengan hati, maka yang diperhitungkan ialah niat yang ada dalam di hati. Adapun dalam ibadah tertentu, melafalkan niat dengan lisan adalah sangat dianjurkan.
Maka dari itu, orang bangun untuk makan sahur dan mempersiapkan segala sesuatunya, pada hakekatnya hal itu sudah merupakan niat, sebab ia melakukan semua itu karena ia berhasrat hendak puasa. Jadi hasrat itu sama dengan niat.
D. Syarat-syarat puasa
Secara umum, syarat-syarat puasa adalah bagi mereka yang telah dibebani secara syar’i, sebagaimana perincian berikut;
1. Islam, perintah puasa adalah hanya ditujukan kepada ummat manusia yang beriman, maka orang kafir tidak sah menjalankannya;
2. Baligh, puasa adalah dibebankan kepada mereka yang sudah berkewajiban untuk menjalankan perintah Allah SWT, sementara anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak wajib melakukan ibadah puasa, akan tetapi apabila ia berpuasa, maka hukumnya sah;
3. Berakal, berpuasa adalah sarana untuk membina diri agar lebih terprogram, membutuhkan kesadaran diri dan akal untuk menjalankannya, sehingga orang yang tidak berakal seperti gila, sakit ayan dan hilang akalnya tidak diwajibkan melakukan ibadah puasa;
4. Sehat dan bermukim, bagi mereka yang dalam keadaan sakit yang membahayakan jiwa atau sedang dalam perjalanan jauh yang bertujuan untuk kebaikan, maka puasa adalah tidak wajib baginya, akan tetapi harus menggantinya disuatu hari nanti jika diberi kesempatan;
5. Tidak sedang haid dan nifas. Bagi kaum muslimah yang sedang mengalami hal tersebut maka mereka tidak memenuhi syarat sahnya puasa, namun harus tetap menggantinya jika telah menyelesaikannya.
E. Sunah-sunah puasa
Selama bulan Ramadhan banyak sekali amaliyah sunnah yang bernilai pahala yang berlipat ganda, namun harus menjadi catatan bahwa tentunya tidak bisa mengganti keutamaan puasa di dalamnya.
1. Menyegerakan berbuka
“Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak melakukan shalat maghrib dulu sehingga ia berbuka, meskipun hanya seteguk air” (HR. At-Tirmidzi).
Dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Sahal bin Sa’ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: “Manusia (umat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk” (HR. Abu Daud dan Al-Hakiem).
Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Dari Ibnu Umar, Adalah Nabi Saw selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah (HR. Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)
Dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang)”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
2. Berbuka dengan beberapa butir kurma yang masih basah (ruthab).
Hal tersebut berdasarkan keterangan Anas bin Malik, “Rasulullah SAW biasa berbuka dengan menyantap beberapa butir ruthab sebelum shalat. Jika tidak ada maka dengan beberapa butir tamar. Dan jika tidak ada dengan meminum beberapa teguk air” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim dan Ad-Daruquthni)
3. Berdo’a menjelang berbuka;
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa saat berbuka tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)
4. Makan sahur dan mengakhirkan sahur,
Dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah”. (HR. Al-Bukhary)
Dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda: Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah”. (HR. An-Nasa’i).
Dari Zaid bin Tsabit ia berkata: “Kami bersahur bersama Rasulullah saw. lalu kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh )’. Saya berkata: Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)? Ia berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Dari Amru bin Maimun, ia berkata: “Adalah para sahabat Muhammad Saw adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur”. (HR. Al-Baihaqi).
Telah bersabda Rasulullah SAW: “Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur) daripadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem).
Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: “Shalat telah diiqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra., ia bertanya: Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, lalu ia meminumnya” (HR Ibnu Jarir)
5. Memperbanyak do’a,
Tiga orang yang do’anya tidak ditolak oleh Allah SWT, orang yang berpuasa hingga berbuka, imam yang adil dan orang yang teraniaya” (HR. Tirmidzi)
6. Memperbanyak membaca Al-Qur’an,
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau Al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim”. (HR Al-Bukhary).
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an, keduanya akan memberi syafa’at di hari kiamat. Puasa berkata ya Allah aku telah mencegahnya makan dan nafsunya pada siang hari, maka berikanlah syafa’atku padanya. Al-Qur’an berkata, aku telah mencegah tidur dimalam hari, berikanlah syafa’atku kepadanya. Maka diterimalah syafa’at keduanya” (HR. Ahmad)
7. Bagi orang yang dijamu berbuka oleh orang lain, disunatkan untuk mendoakannya,
Dari Abdullah bin Zubair, ia berkata; Rasulullah SAW berbuka di rumah Saad bin Muadz. Beliau berdo’a; Berbuka dirumah kalian orang-orang yang berpuasa, makanan kalian dimakan oleh orang-orang yang berbakti, dan semoga malaikat membacakan shalawat atas kalian (HR. Ibnu Majah)
F. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Berhubungan suami istri di siang hari, bagi mereka yang melakukan hal ini maka harus menggantinya dengan berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa henti atau memberi makan satu fakir miskin selama enam puluh hari atau memberi enam puluh fakir miskin selama sehari.
2. Makan dan minum dengan sengaja sebelum waktu berbuka;
3. Muntah dengan sengaja;
4. Mengeluarkan mani (sperma) secara tidak lazim sebagai akibat pandangan, khayalan, ciuman dan sentuhan;
5. Haid dan nifas, kaum muslimah yang sedang menjalankan puasa kemudian tiba-tiba mengalami haid atau melahirkan, maka wajib hukumnya untuk membatalkan puasanya;
6. Tidak berniat puasa;
7. Murtad.
G. Hal-hal yang diperbolehkan saat berpuasa
1. Memakai celak dan obat tetes mata;
2. Memakai minyak di rambut atau di tubuh;
3. Suntik;
4. Berendam di air pada musim kemarau;
5. Menyuapi makanan untuk anak kecil dengan mulut;
6. Berbekam dan donor darah;
7. Menelan ludah.
G. Hal-hal yang makruh saat berpuasa
1. Mencicipi makanan, dan memakan makanan yang ada di sela-sela gigi;
2. Mengunyah ilk (semacam permen karet);
3. Berlebihan dalam berkumur dan beristinsaq
4. Hukum mencium istri, bersentuhan dan memikirkan masalah seksual bagi orang yang sedang berpuasa;
H. Menqadha’ Puasa
Dalam menqadha’ puasa yang ditinggalkan, lebih afdhalnya dikerjakan dengan segera. Dan dalam mengqada’ puasa tidak harus berturut-turut. Yang berhutang puasa karena tidak mampu puasa, seperti kakek tua atau orang sakit terus-menerus, lalu meninggal dunia, maka cukup dibayarkan fidyahnya dengan memberi makan satu orang miskin setiap hari sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan.
Adapun orang yang punya hutang puasa, dan mampu atau ada kesempatan untuk menqada’nya, lalu meninggal dunia, maka ahli warisnya wajib mengqada’nya. Seperti tersebut dalam sebuah hadist; “Barangsiapa meninggal dunia, dan dia punya hutang puasa, maka wali (ahli waris)-nya wajib berpuasa untuknya” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
I. Hal-hal yang memperbolehkan tidak berpuasa
Berpuasa adalah merupakan ibadah mahdah, yang tidak dapat digantikan kecuali ada udzur syar’i yang membolehkannya untuk tidak berpuasa, sebagai catatan, dikhawatirkan apabila meneruskan puasanya akan membahayakan dirinya atau orang yang menjadi tanggungannya. Diantara hal-hal yang secara syar’i diperbolehkan untuk tidak berpuasa diantaranya:
1. Sakit yang tidak memungkinkannya untuk berpuasa;
2. Bepergian;
3. Hamil dan menyusui;
4. Haid dan Nifas;
5. Sangat renta;
6. Tidak berpuasa karena dipaksa;
7. Takut mati atau kurang akal;
8. Berperang di jalan Allah;
9. Puasa sunat.
J. Hal-hal yang menghabiskan pahala puasa
Puasa adalah menahan diri, bukan hanya makan dan minum akan tetapi menahan seluruh anggota badan; mata, lisan, telinga, hati, kemaluan, pikiran dan anggota tubuh yang lain dari maksiyat. Maka apabila seseorang yang menjalankan puasa kemudian ia tidak mampu menahan diri dari maksiyat yang ditimbulkan oleh anggota badan tersebut maka nilai puasanya akan berkurang, bahkan bisa jadi seseorang tersebut tidak mendapatkan pahala puasanya selain lapar dan haus.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW; “Barang siapa yang tidak menahan diri dari ucapan dusta dan perbuatan buruk maka sedikitpun Allah tidak sudi menerima puasanya meskipun ia menahan diri dari makan dan minum.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadist yang lain, Nabi SAW bersabda: “Puasa bukanlah hanya meninggalkan makan dan minum, akan tetapi yang dimaksud puasa adalah menghindarkan diri dari kata-kata yang tidak berguna dan dusta. Maka jika ada orang yang mencelamu atau usil kepadamu, katakanlah saya sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).
Langganan:
Postingan (Atom)