Senin, 15 November 2010

Juz 1

Juz 1
Pengenalan:
- Di mulai dengan “alif lam mim”
- Terdiri dari 141 ayat
- Bagian dari surat Al Baqarah yang terdiri dari 286 ayat.
- Ayat-ayat pada juz ini adalah Madaniyyah karena surat Al Baqarah tergolong surat Madaniyyah artinya turun di Madinah.
- Surat al Baqarah sebahagian besar ayatnya diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir).
- Merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpancang (ayat 282).
- Di sebut Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai Fusthaatul-Quran (puncak Al Quran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga surat alif-laam-miim karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Pokok-pokok isinya:

Di antaranya,
- Tentang golongan manusia 1-20
- Allah dapat membuat perumpamaan dengan apa saja 26..
- Penciptaan Adam dan godaan iblis 30-39
- Prilaku dan hukum bagi bani israil 40-141 dalam juz ini, di dalamnya ada:
o Perintah mengerjakan shalat 43
o Larangan mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan 42
o Larangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga dunia yang murah 41
o Anjuran agar memohon pertolongan dengan sabar dan solat 45
- Musa dengan kaumnya 49-61
- Kisah penyembelihan sapi 67-74
- Perlakuan mereka terhadap kitab dan firman Allah 75-7
- Isi Taurat dan sikap mereka 83-86
- Kesombongan terhadap para nabi mereka dan dakwah serta mu’jizat/kitab 87-101
- Sikir adalah kebiasaan mereka 102
- Larangan mengikuti gaya dan cara mereka 104-105
- Ibrahim, Ismail dan ka’bah 124-134
- Iman dan Islam yang benar tidak boleh membeda-bedakan para nabi 135-141
Pendalaman:
- Kisah Ibrahim
- Ayat 62
- Ayat 120, dan kaitannya dengan kehidupan kontemporer

Khotbah Ied Qurban 1431H

KHUTBAH IDHUL ADHA 1431 H
“HIKMAH DIBALIK BENCANA DAN SEBAB PERTOLONGAN ALLAH “
Dr. KH. ALI AKHMADI, MA, AL-HAFIZH

الله أكبرالله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah 1431 H, hari bersejarah bagi umat muslim di muka bumi ini. Puji syukur kehadirat Allah SWT. Dia-lah yang telah memberikan ampunan kepada setiap pelaku dosa. Dan Allah pula yang telah melipat-gandakan pahala bagi para pelaku kebajikan. Dia melimpahkan berbagai kebaikan dan kenikmatan kepada segenap makhluk-Nya sehingga pada pagi hari yang indah ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menunaikan sebagian dari perintahNya, yaitu solat hari raya dan memotong hewan qurban.
Hari ini, jutaan umat muslim yang datang dari seantero dunia telah memenuhi panggilan Allah sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, wukuf di padang Arafah “haji adalah wukuf di padang Arafah”. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan ketakwaan.
Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada khatamul anbiya’, imamul mursalin, shahibul maqaamil Mahmud, Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Hari ini, lebih dari duaratus ribu saudara kita sebangsa bersama sekitar 3 juta umat muslim dari seantero dunia tengah menunaikan ibadah haji. Kita turut berdoa semoga mereka dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya menjadi haji yang mabrur, sehingga sepulang mereka ke tanah air kita tercinta mampu memberi pengaruh positif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang tengah dilanda musibah dan bencana.
Hari ini, ditengah-tengah perayaan Idul Adha tahun ini, kita turut prihatin dan turut berbela sungkawa atas musibah dan bencana tiada henti-hentinya menyambangi kehidupan negeri tercinta ini. Banjir bandang dan tanah lonsor di ranah Papua, gempa bumi disertai tsunami di Kepalauan Mentawai, dan gunung Merapi yang tengah menebarkan ancaman berupa awan panas dan laharnya ke daerah Yogjakarta dan sekitarnya masih menyisakan tangis pilu dan duka lara. Disamping bencana alam tersebut, masih banyak lagi masalah-masalah sosial yang terus-menerus mendera negeri ini, korupsi yang tiada pernah terhenti, pelecehan seksual yang terus-menerus terjadi, kolusi yang telah menjadi budaya anak negeri, manipulasi anggaran masih menjadi trend yang terus lestari, sementara itu, di setiap sudut kota dan desa, bayi-bayi menangis kekurangan gizi, orang-orang jompo mengais tumpukan sampah demi untuk sesuap nasi, anak-anak kecil berkeliaran menjajakan suara paraunya demi untuk menyambung hidup hari ini, dan masih banyak lagi persoalan lain yang tiada pernah kunjung selesai sebab masih begitu banyak pemimpin negeri yang telah lupa akan janji kepada rakyat yang telah mendudukan mereka diatas kursi.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Segala musibah dan bencana yang terjadi di negeri ini tentunya tidak datang tanpa sebab dan tiba-tiba. Sebagai seorang muslim seharusnya kita menyadari sudah sejauh mana perbuatan kita telah menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhu berkata, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai orang-orang Muhajirin; lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya:
1. Tidaklah muncul perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khomr, judi, merampok dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka.
2. Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.
3. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezholiman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik.
4. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah. Dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka.”

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Marilah kita bangkitkan semangat bersama saudara-saudara kita yang kini tengah terpuruk dalam kesusahan dan penderitaan. Kita harus tunjukkan solidaritas kemanusiaan, kita tunjukkan dan buktikan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah dan bencana ini.
Marilah kita bersama berikan motivasi kepada diri kita dan saudara-saudara kita tersebut bahwa dibalik musibah dan bencana ini, ada hikmah dan pesan dari musibah yang terjadi sehingga kita dapat mengambil pelajaran dan lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan ikhlash dan ittiba kepada Rasulullah saw.
Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:
السَّعِيْدُ مَنِ اتَّعَظَ بِغَيْرِهِ , وَالسَقِيِّ مَنِ اتَّعَظَ بِنَفْسِهِ
“Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dengan orang lain. Dan orang yang celaka adalah orang yang mengambil pelajaran dengan dirinya.”
Adapun hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari berbagai musibah dan bencana diantaranya;
Pertama, sebagai ujian keimanan seorang hamba.
Bagi kita umat muslim apapun musibah dan bencana yang menimpa diri kita dan keluarga kita adalah ujian sebagai jalan atau cara Allah untuk meningkatkan kualitas keimanan kita sebagai seorang hamba yang harus menerima apapun ketentuan Allah dengan ikhlas dan penuh kesabaran.
Firman Allah :
         •                          
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk..” ( QS. Al Baqarah 2 : 155 – 157 )
Dari Shuhaib radhiyaullohu anhu dia berkata : telah bersabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam : “sungguh menakjubkan urusan orang mu’min itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kegembiraan maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya dan jika ia mendapatkan kesusahan maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” ( HR. Muslim )

Kedua, sarana introspeksi diri
Apapun musibah dan bencana yang menimpa seorang muslim hendaklah menjadi sarana introspeksi diri dan bukan sebagai bahan penyesalan tanpa berkesudahan, berkeluh kesah sehingga harus berputus asa dari rahmat Allah ta’ala. Haruslah kejadian tersebut tidak lantas membuat seorang muslim lalai dan berpaling dari nikmat Allah. Maka sudah sewajibnya kita memperbanyak istighfar, dzikir yang syar’I, dan memperbanyak bertobat. Semoga Alloh ta’ala mengganti musibah tersebut dengan kemudahan, kebaikan, keberkaha.
Firman Allah ;
          
Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan : Rasululloh shallalahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “barangsiapa yang dikehendaki Alloh kebaikan pada dirinya, maka Dia akan memberikan cobaan kepadanya” (HR. Bukhari)

Ketiga, meninggikan derajat dan mengurangi dosa seorang mukmin
Seorang mukmin bukanlah makhluk tanpa salah dan dosa. Kadang tanpa dia sadari, dirinya telah berbuat kesalahan yang menyebabkan dirinya berliput dosa. Oleh sebab itu, Allah memberikan musibah kepada orang mukmin sebagai konsekwensi atas dosa dan maksiat yang telah dilakukannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya kesana. Maka Alloh ta’ala senantiasa mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya sehingga dia bisa sampai pada kedudukan yang dikehendaki oleh Allah ta’ala.”
Dari Al-Aswad rahimahullah, dia berkata : beberapa pemuda Quraisy menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha sambil tertawa. Maka ‘Aisyah berkata, “apa yang menyebabkanmu tertawa?” mereka mengatakan “si fulan jatuh dari tenda yang menyebabkan leher atau kedua matanya hampir celaka (patah atau buta, pen).” Kata ‘Aisyah : “janganlah kamu mentertawakannya karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasululloh shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu melainkan ditulis baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya “ ( HR. Muslim ).

Keempat, ladang amal shalih
Hari ini, Allah telah membukakan ladang untuk beramal shalih bagi kita atas bencana dan musibah yang sekarang ini tengah mendera saudara-saudara kita di berbagai tempat di negeri ini. Kesempatan terbuka lebar bagi kita untuk menunjukkan solidaritas persaudaraan antar sesama. Bahwa kita adalah umat yang satu, setiap kita adalah anak cucu Adam, meski kita berbeda ras dan suku bangsa.
Sesungguhnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, mengabarkan bahwasanya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “orang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak akan menzhalimi dan menyerahkannya pada musuh. Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya yang muslim maka Alloh akan memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan saudaranya yang muslim maka Alloh akan hilangkan satu kesulitan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim maka Alloh akan menutup aibnya di hari kiamat “ (HR. Muttafaq ‘alaihi )
Inilah hikmah dan pesan dibalik musibah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Semakin besar musibah yang menimpa kita, jika kita sikapi dengan penuh keikhlasan dan benar maka Allah akan memberikan balasan kebaikan bagi kita.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Alloh mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, maka baginya keridhoan Alloh itu dan barangsiapa yang murka (mencaci dan tidak ridho dalam menghadapi ujian) maka baginya kemurkaan Allah“ ( HR. Tirmidzi).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Idul Adha hari ini harus menjadi sebuah moment penting untuk dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pelaksanaan ibadah haji dan kisah perjuangan Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Setidaknya, ada lima pondasi agar kita bisa mengatasi permasalahan bangsa Indonesia ini, sehingga kita dapat membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik pada masa-masa mendatang.
Pertama, Pondasi Aqidah yang lurus kepada Allah SWT.
Nabi Ibrahim as adalah seorang khalilullah (kekasih Allah) yang memiliki aqidah yang terpatri kuat dalam jiwanya. Hal ini telah dia dibuktikan dengan kokohnya tauhid meski dibakar diatas bara api, kepatuhannya atas perintah Allah untuk melakukan khitan dalam usia yang telah dewasa, kerelaannya untuk menyembelih putranya, Ismail yang sangat dikasihinya dan kerelaanya berlepas diri dari siapa pun dari kemusyrikan, termasuk orang tuanya, Azar sang pembuat patung yang tidak mau bertauhid kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
                                    •          ¬       
“Sesungguhnya Telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah :4).
Aqidah yang lurus adalah pondasi pertama yang kita pegang teguh sebab aqidah yang lurus akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang kuat dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat berliput kesenangan dunia, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, popularitas yang luas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani dan ia pun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan, baik karena sakit yang tiada kunjung sembuh, bencana alam yang mendera, kekurangan harta benda maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Kedua, Pondasi akhlaqul karimah (berperilaku yang baik) kepada sesama.
Pelaksanaan ibadah haji adalah momen ibadah yang suci. Setiap umat muslim yang diberikan kemuliaan untuk memenuhi panggilan Allah ke rumah-Nya yang suci harus menjaga tingkah laku dan akhlaknya serta etika antar sesama jama’ah haji meski berbeda ras, suku, dan bangsa. Tidak diperbolehkan baginya untuk berbuat fasik dan saling berbantah-bantahan. Allah swt berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkataan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah: 197)
Akhlak mulia juga tercermin dari jawaban Ismail as yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, Allah swt menceritakan masalah ini dalam firman-Nya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS Ash Shaffat :102).
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Ketiga, Pondasi ilmu Pengetahuan.
Barangsiapa yang menginginkan kebahagian dunia dan akherat haruslah memiliki ilmu dan pengetahuan. Tingginya ilmu pengetahuan seseorang bukan karena banyaknya gelar yang disandang, akan tetapi besarnya manfaat ilmu yang dimilikinya untuk kemaslahatan umat. Generasi Ibrahim adalah generasi yang cinta akan ilmu, karena itu mereka mencarinya, di manapun ilmu itu berada, tanpa ada perasaan puas dalam mendapatkannya, bahkan ilmu yang didapatnya menyatu ke dalam jiwa, sikap dan tingkah laku, sehingga dengan ilmu yang mereka miliki telah menorehkan sejarah yang dikenang sepanjang masa. Allah swt berfirman:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi (QS. Shad : 45).
Apapun yang kita lakukan haruslah dengan ilmu. Baik yang berkenaan dengan kegiatan keduniawian maupun yang berkaitan dengan ibadah kita kepada Allah. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS Al Isra :36).
Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang dibebankan kepada setiap umat muslim dari semenjak buaian sampai ke liang lahat. Tidak ada orang yang paling pintar di muka bumi ini, diatas orang yang berilmu masih ada yang lebih memiliki pengetahuan, firman Allah :
     
“…dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”. (QS. Yusuf; 76)
Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu.
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan oleh Allah.
Keempat, Pondasi ukhuwah dan kebersamaan.
Pelaksanaan ibadah haji adalah gambaran persatuan umat muslim seluruh dunia. Mereka saling mengenal, saling bertegur sapa, saling mendoakan tanpa membedakan ras, suku bangsa, pangkat dan derajat. Maka dari itu, bila semangat ukhuwah Islamiyah ini mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka niscaya akan menjadikan umat Islam ini berwibawa. Setiap muslim adalah bersaudara, tiada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Sikap Ananiyyah (egoisme) harus kita buang sejauh-jauhnya, dan ketakwaan harus menjadi dasar setiap kali ingin memecahkan persoalan umat demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks kehidupan kita sekarang, mungkin saja kita berbeda-beda suku dan bangsa, organisasi sosial dan politik, bahkan dalam kelompok-kelompok aliran atau pemahaman keagamaan, tapi semua itu seharusnya tidak membuat kita menjadi begitu fanatik lalu merasa benar sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai kelompok yang salah. Harus kita ingat bahwa ukhuwah merupakan bukti keimanan dan bila ini belum kita wujudkan pertanda lemahnya keimanan yang kita miliki, Allah swt berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat :10).

Kelima, Pondasi ekonomi keumatan
Tatkala Ibrahim as meninggalkan Isma’il dan ibunya, dia seraya mengangkat tangannya berdoa kepada Allah supaya mereka diberikan kemudahan rizki yang baik dan halal. Allah berfirman :
¬    ¬        ¬      ••     •   
“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim ; 37)
Nabi Ibrahim as telah mentarbiyah keluarganya untuk berusaha mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Kesulitan hidup tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara dalam mencari harta, apalagi kita memang tidak sesulit generasi terdahulu dalam memperoleh rizki. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah saw bersabda:
إنَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ
“Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal” (HR. Ad Dailami).
Keberkahan hidup berasal dari rizki yang halal. Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan cara-cara yang tidak halal, seperti korupsi, manipulasi dan monopoli justru akan menjatuhkan derajat dihadapan manusia dan Allah. Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya dan keluarganya adalah lebih baik dan terhormat daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.

Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu.
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan oleh Allah.
Allah telah menjadikan kemenangan memiliki berbagai sebab dan bagi kekalahan pun memiliki berbagai sebab. Maka wajib bagi kaum mukminin untuk berpegang teguh dengan perintah Allah serta agar mereka menjaga hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya. Dan hendaknya mereka juga menjauhi berbagai maksiat yang merupakan sebab tidak datangnya pertolongan (Allah).
         
"Hai orang orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7).
Bentuk pertolongan kaum mukminin kepada Allah yaitu dengan mengikuti syariat-Nya, menolong agama Nya serta melaksanakan hak-hak Nya. Namun, bukan berarti Allah membutuhkan hamba-Nya. Bahkan, justru merekalah yang membutuhkan Allah, sebagaimana Allah berfirman :
  ••                       
"Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah, dan Allah Dia lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikanmu). Dan yang demikian itu sekali kali tidak sulit bagi Allah." (QS. Faathir : 15 - 17).

Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhu berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam telah bersabda;
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Allah berada di hadapanmu." (HR. Tirmidzi).
Maka barangsiapa menjaga Allah dengan menjaga agama-Nya, istiqamah di atas agama-Nya, saling menasehati dalam menetapi kebenaran, senantiasa bersabar dan berbaik sangka kepada Allah atas segala musibah yang menimpanya, tidak mudah berputus asa untuk senantiasa mencari keridhaan Allah, dan bertawakal kepada Allah setelah berusaha dan beriktiar dengan segenap daya dan upaya yang dimilikinya niscaya Allah akan menolong mereka, mengokohkan mereka atas musuh musuh mereka, menjaga mereka dari tipu daya (makar) musuh-musuh mereka, menaikkan derajat ketakwaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang kelak mendapatkan surga dan kekal di dalamnya.
Setiap orang tidak akan lepas dari permasalahan. Dan ketika kita mendapat masalah, tentu kita sangat berharap adanya pertolongan Allah. Pertolongan Allah dapat turun bila kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau dengan kata lain bertakwa kepada Allah.
Firman Allah :
  ¬       
"……Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaq : 4).
Demikian khutbah idul adha kali ini, semoga Allah SWT melunakkan hati kita untuk menerima hidayah dan syariahnya, melunakkan hati kita untuk lebih peduli kepada sesama. Marilah kita tengadahkan tangan, kita tundukkan hati, kita memohon kepada Allah SWT.
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على سيدنا محمد، وآله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات واصلح ذات بينهم وألف بين قلوبهم واجعل قلوبهم على قلوب خيارهم

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اللهم انصر جيوش المسلمين وعساكر الموحدين ودمر أعداءك أعداء الدين وأعل كلمتك إلي يوم الدين اللهم انصر دعاتنا وعلمائنا المظلومين تحت وطأة الظالمين وفتنة الفاسقين وحقد الحاقدين وبغض الحاسدين وخيانة المنافقين

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ لَنَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا قَائِلِيهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

اللهم بارك لنا في صاعنا ومدنا وقليلنا وكثيرنا واجعل لنا مع البركة بركتين

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حجهم حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًهم سعيا مَشْكُوْرً وَذَنْبًهم ذنبا مَغْفُوْرًا وتجارتهم َتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ وَلا نَكْفُرُكَ ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَخْفِدُ ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصل اللهم علي خير خلقك وأفضل نبيك محمد وعلي آله وصحبه وسلم تسليما والحمد لله رب العالمين
Selamat merayakan idul adha 1431 Hijriyah. Taqabbalallahu minna waminkum.

Senin, 18 Oktober 2010

Juz 19

...di dalamnya ada sebagian al Furqon (pembeda), surat as Syu'ara (para penyair), ada sebagian surat an-Naml (semut).
di antara yang dapat di angkat dari surat al Furqan adalah:
- aktivitas dan karya besar tanpa di bangun di atas pondasi keimanan manfaatnya akan berhenti pada akhir kehidupan di dunianya.
- pentingnya mendalami dan mnsosialisasikan karakter dan sifat mereka yang akan mendapatkan surga.
Sedang dari surat as Syua'ra adalah:
- pentingnya belajar ilmu sosial dan sejarah, arena isi surat ini banyak mengungkapkan sejarah, Musa dengan Fir'aun, Ibrahim, Luth, Nuh, Syu'aib dan di akhiri dengan Muhammad dengan al Qur'annya.
- cara berkomunikasi yang produktif serta berdakwah yang indah.
surat an Naml adalah:
- kisah sulaiman dan kemewahan yang tidak menyesatkan

Kamis, 14 Oktober 2010

Juz 2

Juz 2
Bagian dari surat al-Baqarah. Juz ini di mulai dari firman Allah سيقول السفهاء من الناس ما ولهم عن قبلتهم..... ayat 142, dan di akhiri dengan firman Allah تلك ايات الله نتلوها عليك بالحق وانك لمن المرسلين. Ayat 252 dari surat tersebut. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa surat al-Baqarah masuk golongan surat-surat Madaniyyah terdiri dari 286 ayat. Maka juz 2 ini semuanya masuk dalam surat ini pula, tergambar pula bagi kita akan isi juz ini yaitu umumnya tentang hokum-hukum.
Pokok-pokok isinya:
Di antara pokok isinya adalah

1. Keimanan:
- ke Esaan Allah 163.

2. Hukum-hukum:

- perubahan arah qiblat dari Baitil Maqdis Palestina ke Masjidil Haram di Makkah 142-
- Hukum orang yang terbunuh karena berjuang di jalan Allah 154.
- Cobaan dan musibah 155.
- Halal dan haram 168, 172
- Orang yang menyembunyikan kebeneran al Qur’an 159, 174
- Hukum qisas 178, 194
- Hukum puasa 183
- Hukum haji dan umrah 196
- Hal-hal yang halal dan yang haram 172-173
- Bernafkah di jalan Allah 195
- Hukum arak dan judi 219.
- Cara menyantuni anak yatim 220,
- Nafkah dan yang berhak menerimanya 215
- Hukum menjaga salat dan salat wustha 238
- Wasiyat kepada dua orang ibu-bapa dan kaum kerabat 180
- Hukum sumpah 225
- Hukum orang murtad meninggal belum betaubat 217
- Hukum haidh 222, 'iddah 228, thalak 229, khulu’ 229, ilaa' 226 dan hukum susuan 233; hukum melamar 235, mahar 236-237, larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya 221; hukum perang 216.
- Hukum keseimbangan 251

3. Kisah-kisah:
- Kisah Talut dan Jalut 247
4. Dan lain-lain:
Tentang golongan manusia 204-
Pesan komprehensif dari ayat 177.
Pondasi kehidupan terdiri dari:
- Pondasi keimanan (rukun Iman) seperti iman kepada Allah..
- Pondasi social ( kepedulian social) seperti member bantuan..
- Pondasi ibadah (rukun Islam) seperti menegakkan salat …
- Pondasi akhlak (etika komunikasi), seperti tepat janji …
- Pondasi ruhaniyyah separti sabar dalam segala bentuk kesusahan..

Minggu, 26 September 2010

جنات

Macam-macam surga dalam Al-Qur'an
1]. Syurga Firdaus

Syurga Firdaus diperuntukkan bagi :

a.Peshalat yang khusyu’

b.Orang-orang yang produktif dalam beramal sholeh (jauh dari al-laghwu)

c.Orang-orang yang komitmen berzakat.

d.Orang-orang yang menjaga kemaluannya

e.Orang-orang yang konsisten dengan shalat.

f.Orang-orang yang komitmen dengan amanah dan janji.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya ” (Q.S. Al Mu’minun [23] : 1-11)

2]. Syurga Ma’wa

Syurga Ma’wa diperuntukkan bagi :

a.Orang-orang yang senantiasa berdzikir.

b.Orang-orang yang bersifat tawadhu’

c.Orang-orang yang komitmen untuk shalat malam.

Orang-orang yang komitmen dalam beriman beramal shaleh, para dermawan. Jauhilah sifat sombong (At Takabur). Dua komponen utama sifat sombong : meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah orang yang beriman (sama) seperti orang yang fasik (kafir). Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh maka bagi mereja syurga-syurga tempat kediaman sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. As-Sajdah [32] : 15-19).

3]. Syurga ‘Adn

Syurga ‘Adn diperuntukkan bagi:

a.Orang-orang yang komitmen dalam beriman dan beramal shaleh.

b.Orang-orang yang rela terhadap ketetapan dan ketentuan Allah SWT.

c.Orang-orang yang memiliki khasyyatullah (perasaan takut kepada Allah).

(yaitu) Syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Q.S. Ar-Ra'd [13]: 23-24).

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah Syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagii orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.S. Al Bayyinah [98] : 7-8).

4]. Syurga Na’im

Syurga Na’im diperuntukkan bagi: para Al Muqarrabin (Orang-orang yang dekat dengan Allah). Cara mendekat (taqarrub) yang disebutkan Rasul adalah ketika sujud. Maka, perbanyaklah doa pada waktu bersujud.“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta Syurga kenikmatan.” (Q.S. Al-Waqi’ah [56] : 88-89).

5]. Syurga Dar Muqamah

Syurga Dar Muqamah dinikmati oleh orang-orang yang kebaikannya lebih dominant daripada kesalahannya. Tiga tipologi manusia :

a. Kebaikan < kebaikan

b. Kebaikan = kesalahan

c. Kebaikan > kesalahan

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian ini adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) Syurga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (Syurga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu. (Q.S. Fathir [35] : 32-35).

6]. Syurga Maqam Amin

Syurga Maqam Amin diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. ”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air." (Q.S. Ad-Dukhan [44] : 51-52)

7]. Syurga Darus Salam

Syurga Darus Salam diperuntukkan untuk orang-orang yang melakukan kebaikan “Allah menyeru manusia ke Darus Salam (Syurga) dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Syurga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni Syurga, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Yunus [10] : 25-26).

Inilah jalannya para penempuh jalan ke Syurga. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk merealisasikannya dan menerapkannya dalam kehidupan. Ini tidak bisa kita laksanakan, kecuali dengan ilmu yang benar yang bersumber dari kitabullah dan sunah Nabi-Nya dan semoga Allah selalu membimbing kita dalam beribadah dan memasukkan kita ke dalam golongan orang – orang ahli Syurga, Amiin.

Aah,,,,Sungguh sebuah janji yang tak pernah di ingkari oleh Yang Maha Rahman. Apalagi Allah menyingkap tirai-Nya yang mulia, sebagai nikmat teragung bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Inilah yang dirindukan bagi hamba2-Nya sebagai persinggahan terakhir yang abadi nantinya... Semoga kita semua adalah hamba2-Nya tamu-tamu Allah Yang Mulia.

Kemudian dalam Penggambaran tentang Syurga membuat kita rindu kepadanya. Allah berbahasa dengan bahasa standar manusia dalam menggambarkan keindahan Syurga lewat firman-firman-Nya. Semoga kita menjadi bagian dari penghuni Syurga-Nya. Aamiin ya Rabbal'alamiin…

Selasa, 21 September 2010

QS 12; 108 Kesetiaan pendukung da'wah

YANG BERGUGURAN MENCAPAI TUJUAN DA’WAH
di ringkas oleh : Dr. KH. Ali Akhmadi MA
I. PENDAHULUAN
DA’WAH merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan da’wah akan diperoleh apabila para anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan da’wah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada anggota da’wah yang berjatuhan, baik bentuknya penyelewengan, penyimpangan, pengunduran diri dan sebagainya, sebelum meraih kemenangan. Fenomena ini tidak bisa dihindari, sehingga ada sebagian orang memandang hal ini sebagai suatu fenomena yang wajar / sehat guna memperbaharui sel-sel intinya, dan membebaskan da’wah dari segala hal yang memberatkan dan menghambat pergerakan.

II. FENOMENA YANG BERJATUHAN DI ZAMAN NABI
Pada zaman Rasulullah saw, sudah terjadi fenomena pembelotan para anggota jama’ah untuk melepaskan tanggung jawab ataupun sekedar bermalas-malasan dalam berda’wah. Beberapa peristiwa berjatuhan di jalan da’wah yang sempat terjadi adalah:
a. Kelompok mutakhollifin (orang-orang yang tidak berangkat) pada perang Uhud, diantaranya: Ka’ab bin Malik, Muroroh Ibnu ‘Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Namun mereka bertiga ini kemudian diterima taubatnya oleh Allah swt, dan penerimaan taubat mereka diabadikan di dalam Al Qur’an dalam surat al Bara-ah, dan karena pertaubatan besar inilah surat ini juga dinamakan surat at-Taubah.
b. Pembocoran rahasia negara oleh Hathib bin Abi Balta’ah. Namun mengingat kebaikan masa lalunya, yaitu keikut sertaannya dalam perang Badar yang merupakan yaumul furqan, Rasulullah saw mengampuni dan tidak menghukumnya.
c. Haditsul Ifki (berita kebohongan besar) terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. Diantara orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, ada tiga sahabat nabi, mereka telah mendapatkan hukuman had, yaitu masing-masing di dera 80 kali, dan setelah itu merekapun bertaubat. Mereka itu adalah: Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy dan Misthah bin Utsatsah.
d. Pengkhianatan Abu Lubabah yang membocorkan rahasia hukum yang akan diterapkan kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Dia telah menyatakan taubat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, dan Allah swt-pun telah menerima taubatnya.
e. Peristiwa berdirinya masjid dhirar.

III. SEBAB-SEBAB BERJATUHAN
a. Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan
1. Lemahnya segi pendidikan.
2. Tidak menempatkan personal dalam posisi yang tepat.
3. Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu.
4. Tidak adanya monitoring personal secara baik.
5. Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat.
6. Konflik intern. Konflik intern ini disebabkan oleh:
- Lemahnya kepemimpinan.
- Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebar fitnah.
- Perbedaan watak dan kecenderungan individu.
- Persaingan dalam memperebutkan kedudukan.
- Tidak adanya komitmen dan penonjolan tingkah laku individu.
- Kevakuman aktifitas dan produktifitas.

Dalam sejarah, konflik yang pernah terjadi antar ummat Islam adalah pada peristiwa konflik golongan Aus dan Khazraj. Dalangnya (provokatornya) adalah orang-orang Yahudi, yaitu Syammas bin Qais. Atas prakarsa Rasulullah saw maka golongan Aus dan Khazraj bersatu kembali. Hal tersebut terbukti dengan turunnya QS Ali Imran: 100 – 105.
7. Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified. Sebabnya antara lain:
- Kelemahan dalam kemampuan idiologi.
- Kelemahan dalam kemampuan organisatoris.
Oleh karena itu, seorang pemimpin yang diangkat haruslah memiliki syarat:
- Mengenal ds’wah.
- Mengenal diri sendiri.
- Pengayoman yang kontinyu.
- Teladan yang baik.
- Pandangan yang tajam.
- Kemauan yang kuat.
- Kharisma kepribadian yang fitri.
- Optimisme.

b. Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu
Yaitu berjatuhannya anggota disebabkan oleh atau bersumber pada pribadi anggota.
Yang termasuk dalam hal ini adalah:
1. Watak yang tidak disiplin, sehingga menyebabkan dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi / jama’ah.
2. Takut terancamnya diri dan periuk nasinya (QS 4 : 120, QS 3 : 175).
Tersebut dalam hadits:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي).
“Syurga dipagari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menyenangkan”. (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).
3. Sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.
Tersebut dalam hadits:

“Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama. Sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam beragama”. (HR Ahmad dan An-Nasai).
4. Sikap terlalu memudah-mudahkan dan meremehkan.
Tersebut dalam hadits:

“Sesungguhnya kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan dosa menurut pandangan mata kamu lebih halus dari rambut. Di masa Rasulullah saw, kami menggolongkan perbuatan itu termasuk al muubiqoot (hal-hal yang menghancurkan)”. (HR Bukhari).
5. Tertipu kondisi gemar menampilkan diri (QS 28 : 83).
6. Kecemburuan terhadap orang lain / kedengkian. (QS 5 : 27 – 30).
7. Bencana senajata / penggunaan kekuatan.
Syarat-syarat penggunaan kekuatan:
- Habis segala usaha dengan jalan lain.
- Urusannya dipegang oleh pimpinan dan jama’ah Islam dan bukan oleh individu.
- Tidak menjurus pada pengrusakan dan bencana.
- Tidak boleh keluar dari ketentuan syara’.
- Penggunaan kekuatan sesuai skala prioritas.
- Penggunaan senjata harus mempunyai persiapan yang matang dan cermat.
- Hati-hati akan pancingan berbagai reaksi.
- Tidak boleh menjerumuskan ummat Islam bila posisi kekuatan tidak seimbang.

c. Tekanan Luar
1. Tekanan dari suatu cobaan (QS 3 : 175).
2. Tekanan keluarga dan kerabat (QS 9 : 24).
3. Tekanan Lingkungan.
4. Tekanan gerakan agitasi (penyebaran kritik dan keragu-raguan).
5. Tekanan figuritas (QS 7 : 12).

Minggu, 19 September 2010

Lari Kepada Allah

ففروا الى الله
...kalian semua pada lari kepada Allah..".
ayat dari surat adz-dzariyat ini, menggambarkan adanya ragam pelarian dalam hidup ini, tapi pelarian yang benar dan harus di bangun adalah pelarian yang kembali kepada Allah. adapun pelarian kepada dunia, hobi, kebiasaan yang tidak baik, hura2 menghabiskan waktu dan tenaga itu semua tidak di benarkan