Tarhib Ramadhan
Di tulis oleh : KH DR ALI AKHMADI MA AL HAFIZH
Bila Bulan Ramadhan sudah dekat, maka kita ummat muslim disunnahkan untuk melakukan persiapan-persiapan lahir bathin agar kelak tujuan daripada pelaksanaan puasa tidak menyimpang dari tujuan yang sesungguhnya. Diantara persiapan yang harus kita lakukan adalah:
1. Meluruskan niat
Mengerjakan sebuah amalan wajib dalam rangka menegakkan dinnullah harus diawali dengan niat yang ikhlas hanya untuk Allah, namun berniat untuk menjalankan ketaatan akan perintah Allah SWT yang jauh dari kesesatan dan menyekutukan Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Qs. Al-Bayyinah;5)
Sebelum memasuki bulan Ramadhan menata niat yang lurus adalah menjadi sesuatu yang penting agar memperoleh sebuah persepsi yang benar tentang bulan ini.
Dalam sebuah hadist yang panjang Rasulullah SAW bersabda; Dari Salman ra. Beliau berkata; “Rasulullah saw berkhutbah ditengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, Rasulullah bersabda; “Hai manusia, telah menjelang kepada kalian bulan yang sangat mulia, penuh barakah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana Allah SWT telah menjadikan puasa didalamnya sebagai puasa wajib, qiyamul lailnya sunnah, barangsiapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan satu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan amalan wajib tujuh pulau kali pada bulan lainya..”. (HR. Ibnu Huzaimah)
2. Membekali diri dengan pengetahuan yang cukup
Tujuan daripada ibadah di bulan suci Ramadhan adalah meningkatkan kualitas iman dan takwa bagi mereka yang menjalankannya. Oleh sebab itu diperlukan sebuah tatacara yang sesuai dengan tuntunan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW agar tidak sia-sia ibadahnya. Sebagaimana sabda beliau :
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan sesuatu apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus dan berapa banyak orang yang beribadah di malam hari tidak mendapatkan sesuatu apapun kecuali kantuk” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam hal ini, maka dari itu perlu kiranya membekali diri dengan hal tersebut agar sasaran dari ibadah puasa Ramadhan tercapai.
3. Melakukan persiapan berupa kesehatan dan keuangan
Sebelum bergulirnya musim puasa di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan para sahabat-sahabatnya memperbanyak ibadah pra-Ramadhan di bulan Sya’ban. Seperti berpuasa di bulan tersebut sebagai pemanasan diri agar mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan Ramadhan dengan cepat dan diharapkan agar tidak terjadi permasalah fisik yang dapat mengurangi semangat puasa dan nilai ibadah di dalamnya. Demikian halnya dengan masalah keuangan, harus disiapkan jauh hari sebelumnya agar tidak menjadikan alasan untuk tidak fokus dalam berpuasa dan beribadah.
4. Berusaha untuk memahami keutamaan-keutamaannya
a. Bulan kaderisasi takwa
Bulan ini adalah bulan dimana umat Islam yang beriman diuji secara fisik maupun mentalnya untuk dijadikan kader “muttaqien” sebagaimana telah menjadi ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah rasul-Nya.
b. Bulan penuh rahmah
Allah SWT menebarkan rahmat-Nya sepanjang bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist, dari Ubaidah bin Shamit, bahwa ketika Ramadhan tiba beliau bersabda; “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah SWT memberikan naungan-Nya kepada kalian, Dia menurunkan rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan- kesalahan dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah akan melihat kalian berlomba melakukan kebaikan. Allah SWT akan membanggakan kalian di depan para malaikat. Maka perlihatkan kebaikan diri kalian kepada-Nya, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang bulan itu tidak mendapat rahmat Allah SWT (HR. Tabrani)
c. Bulan Maqfirah
Rasulullah SAW bersabda; “Apabila bulan Ramadhan telah datang maka pintu-pintu surga dibuka sementara itu pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu” (HR. Bukhari-Muslim).
Maka jika seorang yang berpuasa dengan hanya mengharap pahala Allah SWT maka dosanya yang telah lampau akan dihapuskan, Sebagaimana sabda Rasulullah;
“Barangsiapa berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni semua dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari-Muslim)
“Sesungguhnya bagi surga itu ada sebuah pintu yang disebut ‘Rayyaan’. Pada hari kiamat dikatakan: Di mana orang yang puasa (untuk masuk Jannah melalui pintu itu)? Jika yang terakhir di antara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary-Muslim).
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang” (HR. Bukhary-Muslim).
d. Bulan dilipatgandakan pahala
Dalam sebuah hadist qudsi Rasulullah SAW bersabda; “Rabbmu berkata; “setiap perbuatan baik (di bulan Ramadhan) dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai dari api neraka, bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah SWT lebih wangi dari bau parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang diantara kamu sedang berpuasa, maka hendaklah kamu katakan; “Saya sedang berpuasa” (HR. Tirmidzi).
Betapa luar biasanya bulan Ramadhan, sebab orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan ketika berbuka dan ketika berjumpa Rabbnya.
e. Bulan diturunkan Al-Qur’an dan malam keutamaan
“Nuzulul Qur’an” adalah sebuah peristiwa bersejarah di bulan ini, dimana Allah SWT telah menurunkan wahyu Al-Qur’an untuk pertama kalinya kepada Muhammad SAW.
“Lailatul qadr” adalah malam-malam di bulan Ramadhan yang penuh keutamaan. Malam yang lebih utama daripada seribu bulan. Para malaikat turun ke bumi dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Malam kesejahteraan bagi seluruh alam sampai terbit fajar.
f. Bulan jihad
Bulan Ramadhan adalah bulan bersejarah, bulan yang diabadikan dalam al-Qur’an sebagai Yaumul furqan, dimana umat Islam mencatatkan kemenangan mereka pada saat perang Badar. Di bulan ini pula al-Qur’an mencatatnya sebagai “Fathan Mubina”, bulan dimana Rasulullah SAW memimpin umat Islam membuka kota Mekkah.
Sejarah pun telah mencatat akan kesuksesan tentara Islam dibawah pimpinan Tariq bin Ziyad menakhlukkan tentara Mongolia dalam perang “Ain Jalut” pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 H.
5. Menyempatkan diri
Rasulullah SAW mengajari kita untuk menggunakan kesempatan yang lima sebelum datang yang lima sebagaimana disebutkan dalam hadist; “Pergunakan waktu yang lima sebelum datang yang lima, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum saat matimu”. (HR. Bukhari-Muslim). Maka barangsiapa yang diberi kesempatan untuk melaksanakannya kemudian dia tidak menjalankannya tanpa alasan syar’i maka ia telah menyalahi agama ini.
Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah SAW bersabda: “Tali pegangan Islam dan pondasi agama itu ada tiga, diatas ketiganya itulah Islam didirikan. Barangsiapa meninggalkan satu diantaranya ia adalah orang kafir yang darahnya halal; yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat fardhu dan puasa Ramadhan” (HR. Abu Ya’la dan Dailami)
Apalagi yang kita tunggu, ladang amal telah membentang di hadapan kita. Marilah kita singsingkan lengan baju, bersungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan harta dan sepenuh jiwa, menyambut bulan mulia dengan penuh suka cita. Dan marilah kita berdo’a agar kita dapat melaksanakan rangkaian ibadah puasa di tahun ini dan dapat berjumpa kembali dengannya di tahun yang akan datang.
Selasa, 10 Agustus 2010
Senin, 02 Agustus 2010
AL-QUR'AN (40 KEUTAMAAN BAGI PEMBACANYA)
Keutamaan al-Qur’an dan pembacanya
1. Menjadi manusia terbaik
عَن عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:خَيْرُ كُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ - رَوَاهُ أًحْمَد وَأَصْحَابُ الْكُتُبِ السِّتَّةِ
Dari Utsman bin ‘Affan RA Rasulullah SAW bersabda : ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Ahmad, al Bukhari, Abu Daud, at Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah).
2. Memperoleh pahala yang berlipat ganda
عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوْسَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ قَالَ : سَمِعْتُ} عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا؛لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ . -رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ،وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Ayyub Bin Musa berkata: Aku mendengar Muhammad Bin Ka’ab Al Qurazhy berkata: Dari Abdullah bin Mas’ud RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “ Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Quran maka dia mendapat satu kebaikan dan setiap satu kebaikan sepuluh pahalanya, aku tidak berkata alif lam min itu satu huruf tetapi alif satu huruf dan mim satu huruf maka baginya sepuluh kebaikan, ” ( HR. at Tirmidzi, hadizt ini hasan shahih).
3. Memperoleh Kedudukan yang mulia
قَالَ عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ : إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَابْنُ مَاجَه.
Dari Umar bin Khaththab RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa golongan dengan sebab al-Qur’an dan menghinakan beberapa golongan lainya dengan sebab al Qur’an ini ” ( HR. Muslim, Ibnu Majah ).
4. Terkabul permohonan tanpa meminta
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِيْ عَنْ مَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ، وَقَالَ: حَسَنٌ غَرِيْبٌ
Dari Abu Said al Khudri, Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan al-Quran dan berdzikir kepada-Ku daripada memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan yang lebih bagus dari apa yang aku berikan kepada orang-orang yang berdo’a “ (HR. at Tirmidzi, dan berkata : hadist ini hasan ).
5. Berbeda dengan orang munafik
عَنْ أَبِيْ مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآن كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. رَوَاهُ أًحْمَدُ،وَالْبُخَارِيُّ، وَمُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمَذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَه
Dari Abu Musa al-Asy’ari RA, Rasulullah SAW bersabda : ”Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Quran seperti utruj (Lemon) baunya harum serta enak rasanya, perumpamaan orang mukmin yang jarang membaca al-Qur’an seperti kurma, tidak ada baunya tetapi manis rasanya, dan perumpamaan munafik yang suka membaca al-Quran seperti rihanah baunya harum tapi rasanya pahit, sedangkan permisalan orang munafik yang tidak suka membaca al Quran sebagaimana Pare tidak ada baunya dan rasanya pun pahit”. ( HR. as Sab’ah ).
6. Ibarat minyak wangi
عَن أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :… وَمَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيْحِهِ. وَمَثَلُ جَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِْ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ.- رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda : “…Perumpamaan teman yang baik seperti penjual minyak wangi bila kamu tidak mendapatkan minyak wanginya, maka paling tidak kamu akan terkena bau harumnya, dan perumpamaan teman yang buruk seperti pandai besi, bila kamu tidak mendapatkan hitamnya, maka paling tidak kamu akan terkena asapanya.“ ( HR. Abu Daud ).
7. Mendapat dua pahala
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ.
Dari Aisyah RA, berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang suka membaca al-Quran dan dia mahir dalam membacanya akan bersama rombongan malaikat yang mulia dan orang yang suka membaca al-Qur’an tetapi tersendat-sendat dalam membacanya dan dia tetap membacanya, maka baginya dua pahala“ ( HR. as Sab’ah, kecuali Ahmad ).
8. Cahaya alam semesta
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوْصِنِيْ: قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ. فَإِنَّهَا رَأْسُ الْأَمْر كُلِّهِ. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ زِدْنِيْ . قَالَ : عَلَيْكَ بِتِلَاوَة الْقُرْآنِ ، فَإِنَّهُ نُوْرٌلَكَ فِي الْأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَّكَ فِي السَّمَاءِ.رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ،وَصَحَّحَهُ فِيْ حَدِيْثٍ طَوِيْلٍ
Dari Abu Dzar al Ghifari RA berkata : “Aku berkata, Wahai Rasulullah berikanlah aku sebuah wasiat, Rasulullah SAW berkata : “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah karena sesungguhnya takwa itu adalah merupakan inti segala perintah’, aku berkata, : ‘Tambahkanlah kepadaku sebuah wasiat, Rasulullah SAW berkata; ‘Hendaklah kamu membaca al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an itu adalah cahaya bagimu di bumi dan cahaya bagimu di langit”. ( HR. Ibnu Hiban).
9. Pemberi syafa’at
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، وَمَاحِلٌ مُّصَدَّقٌ , َوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ
Dari Jabir RA dari nabi SAW bersabda: “Al-Quran pemberi syafa’at bagi yang pantas diberi syafa’at, dan menunjukkan kepada kebenaran..” ( HR. Ibnu Hiban).
10. Pembela yang membaca
أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ { اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ- الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ- فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا؛ - رَوَاهُ مُسْلِم
Dari Abu Umamah al Bahili berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata: “Bacalah al-Qur’an sesungguhnya dia akan memberikan syafaat kepada orang yang senantiasa membacanya, bacalah dua bunga, yaitu surat al-Baqarah dan Ali Imran, sesungguhnya keduanya akan datang pada hari kiamat laksana dua awan yang akan menaungi, atau dua naungan atau keduanya seperti dua kelompok burung yang menaunginya”. ( HR. Muslim )
11. Kedua orangtuanya mulia
عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَ
Dari Sahal bin Muadz Al-Juhani dari ayahnya bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang membaca al Quran serta mengamalkannya, maka Allah akan memakaikan kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari di dunia, maka bagaimana menurut kalian yang mengamalkannya ? “ ( HR.Abu Dawud ).
12. Orangtuanya memperoleh kemuliaan yang tidak disangka-sangka
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ الأَسْلَمِيِّ ، عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ ، وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَ يَقُومُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولانِ : بِمَا كُسِيْنَا ؟ فَيُقَالُ : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ - رَوَاهُ الْحَاكِمُ
Dari Abdullah Buraidah al-Aslami dari bapaknya RA, Nabi SAW bersabda: ”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mempelajarinya (menghafalnya) lalu mengamalkannya dipakaikan hari qiamat sebuah mahkota dari cahaya, cahaya seperti cahaya matahari, kemudian dipakaikan kepada kedua orangtuanya baju kehormatan yang tidak didapati didunia, maka kedua orangtuanya berkata : ‘mengapa kami diberikan kehormatan seperti ini?’ Maka dikatakan, : “karena anak kalian menghafal al-Qur’an”.(HR. Hakim ).
13. Pakaian kebanggaan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَجِيْءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ" فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ" فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ" فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً.- رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ،وَحَسَّنَهُ،
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersaba : “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat kemudian berkata, ‘Yaa Rabb, hiasilah dia, maka dipakaikan mahkota kehormatan, kemudiaan al-Qur’an itu berkata, ‘Yaa Rabb tambahkanlah, maka dipakaikan perhiasan kehormatan, kemudian al-Qur’an itu berkata, ‘Yaa Rabb ridhalah kepadanya, maka Allah ridha kepadanya, kemudian dikatakan kepada orang itu, ‘bacalah al-Qur’an dengan lemah-lembut akan ditambahkan setiap ayat sebuah kebaikan” (HR. Tirmidzi)
14. Kedudukan yang tinggi
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا.- رَوَاهُ التِّرْمَذِيّ
Dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW bersabda: Dikatakan kepada penghafal al-Quran: “Bacalah dengan lemah lembut dan dengan tartil sebagaimana engkau membaca di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu pada ayat yang terakhir yang engkau baca“. (HR. at Tirmidzi).
15. Mengejar ketinggian
عَبْدِ اللهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ {هَذَا}الْكِتَابَ فَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ{ وَآنَاءَ النَّهَارِ}وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ{آنَاءَ}النَّهَارِ.- رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidak dibenarkan hasad (iri) kecuali kepada dua hal, yaitu seseorang yang dikarunia oleh Allah pengetahuan tentang al-Qur’an lalu dia melaksanakannya setiap siang dan malam, dan seseorang yang dikarunia oleh Allah harta yang banyak lalu di menginfakkannya siang dan malam ( HR. Bukhari dan Muslim ).
16. Berlomba dalam kebaikan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ :رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ.- رَوَاهُ الْبُخَارِيّ
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; “Tidak ada hasad kecali dua hal, seseorang yang diberikan pemahaman oleh Allah dengan al-Qur’an serta membacanya setiap siang dan malam kemudian tetangganya mendengar bacaannya, lalu dia berkata, ‘seandainya aku diberikan seperti apa yang diberikan kepada fulan maka aku akan mengerjakan seperti orang tersebut, dan seseorang yang diberikan Allah kekayaan kemudian membelanjakannya di jalan yang benar, maka orang yang iri berkata: “Seandainya kekayaan itu diberikan kepadaku maka aku akan melakukannya seperti ia lakukan”. (HR. al-Bukhari).
17. Selamat dari dahsyatnya kiamat
عَنِ ابْنِ عمر رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُما قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثَةٌ لَا يَهُوْلُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ، وَلَا يَنَالُهُمُ الْحِسَابُ، هُمْ عَلَى كَثِيْبٍ مِّن مِّسْكٍ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ حِسَابِ الْخَلَائِقِ: رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى، وَأَمَّ بِهِ قَوْماً، وَهُمْ رَاضُوْنَ. وَدَاعٍ يَّدْعُوْ إِلَى الصَّلَاةِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.وَعَبْدٌ أَحْسَنَ بَيْنَهُ، وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَوَالِيْهِ.- رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ
Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “ Tiga golongan yang tidak takut ketika terjadinya dentuman yang dahsyat, mereka tidak akan merasakan beratnya hari perhitungan, mereka dalam semerbak bau misk (minyak wangi) sehingga selesai hisabnya semua makhluk, yaitu seseorang yang membaca al-Qur’an dengan mengharap ridha Allah dan memimpin kaumnya dengan al-Qur’an dan kaumnya ridha, penyeru (muadzin) yang menyeru kepada shalat yang mencari ridha Allah, dan hamba yang berbuat baik kepada sesamanya kepada Rabbnya serta berbuat baik kepada para pembatunya”. (HR. Tabrani)
18. Pemimpin bagi kaumnya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ فَاسْتَقْرَأَهُمْ فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنْ الْقُرْآنِ فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا فَقَالَ مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ قَالَ مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ قَالَ أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ - رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ
Dari Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk memilih pemimpin yang memiliki hafalan al-Qur’an, maka setiap dari mereka membacakan hafalan al-Qur’an yang mereka miliki, kemudian datanglah kepada Rasulullah seseorang yang masih muda usianya, lalu Rasulullah bertanya, “Wahai Fulan apakah engkau memiliki hafalan?’ anak muda itu berkata, ‘ada padaku ini dan itu serta surat al-Baqarah’, Rasulullah bertanya, ‘Apakah ada padamu surat Al-Baqarah?, Ia menjawab, ‘benar’, Rasulullah berkata, ‘pergilah dan engkau menjadi pemimpin mereka,..” ( HR. at-Tirmidzi, dia berkata : hadist ini Hasan).
19. Berbeda dengan kebanyakan manusia
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدِ اسْتَدَرَجَ النُّبُوَّةَ بَيْنَ جَنْبَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُوحَى إِلَيْهِ ، لاَ يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ أَنْ يَجِدَّ مَعَ جِدٍّ ، وَلا يَجْهَلَ مَعَ جَهْلٍ وَفِي جَوْفِهِ كَلامُ اللهِ تَعَالَى -رَوَاهُ الْحَاكِمُ
Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ashi, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka sesungguhnya dia telah mencapai derajat kenabian di kedua pundaknya meskipun tidak di wahyukan kepadanya. Tidak sepantasnya penghafal al-Qur’an lalai bersama orang-orang yang lalai dan berbuat bodoh bersama orang-orang yang bodoh, sementara itu didalam tenggorokannya terpadat al-Qur’an”. ( HR . Hakim ).
20. Penolong
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : رَبِّ إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَيُشَفَّعَانِ. رَوَاهُ أًحْمَدُ
Dari Abdullah ibn Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba, Puasa berkata, ‘Ya Rabb, sesungguhnya aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka aku memberikan syafa’atku. Al-Qur’an berkata, ‘aku mencegahnya tidur di malam hari, maka berilah syafa’at”. (HR. Ahmad)
21. Dimuliakan ketika hari berbangkit
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّكُمْ لاَ تَرْجِعُونَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ -يَعْنِي الْقُرْآنَ- ظَهَرَ مِنْهُ.- رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَرَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ فِيْ مَرَاسِيْلِهِ.
Dari Abi Dzar al Ghifari RA dari Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian Tidak akan kembali di sisi Allah dengan sesuatu yang lebih mulia dari apa yang keluar dari padanya (al-Qur’an )”. (HR. al Hakim, dan Abu Daud ).
22. Diberikan kedudukan yang sangat mulia
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِله أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ. قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ.-رَوَاهُ النَّسَائِيّ
Dari Anas bin Malik RA berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari golongan manusia.” Kemudian para sahabat bertanya: ”Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ahli al-Qur’an adalah keluarga Allah dan yang di istimewakan” ( HR. an-Nasai ).
23. Tidak akan tertimpa bencana
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُما قَالَ:مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ{يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لاَ يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئاً } وَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّوَجَلَّ:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا" قَالَ: إِلَّا الَّذِيْنَ قَرَأُوا الْقُرْآنَ.- رَوَاهُ الْحَاكِمُ،وَقَالَ: صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ.
Dari Ibnu Abbas RA berkata: ”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an tidak akan tertimpa bencana, karena dia tidak mengetahui sedikitpun’, kemudian membaca firman Allah: ‘Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya, kecuali orang – orang beriman…’ QS: (At Tin: 5-6); Ibnu Abbas berkata : “Kecuali orang-orang yang beriman, yaitu orang yang membaca al-Qur’an” (HR. al Hakim ).
24. Dijadikan orang yang paling mulia
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَشْرَافُ أُمَّتِيْ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ،وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ.- رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيْ شُعَبِ الْإِيْمَانِ، وَابْنُ أَبِي الدُّنْيَا.
Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling mulia di antara umatku adalah Penghafal al-Qur’an dan orang yang beribadah di malam hari” (HR. al Baihaqi Ibnu abi ad Dunya, ).
25. Yakin dalam menjalani kehidupan
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ { وَاعْمَلُوْا بِهِ} وَلَا تَغْلُوا فِيهِ وَلَا تَجْفُوا عَنْهُ وَلَا تَأْكُلُوا بِهِ وَلَا تَسْتَكْثِرُوا بِهِ.رَوَاهُ أًحْمَد
Dari Abdurahman bin Syibl RA bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Bacalah al-Qur’an kemudian amalkanlah, dan jangan berlebihan padanya, jangan memutuskannya, jangan mencari makan dengannya, dan jangan memperkaya diri dengannya”. (HR. Ahmad).
26. Terkabul doanya
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى قَاصٍّ يَقْرَأُ ثُمَّ سَأَلَ؛ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلْيَسْأَلِ اللهَ بِهِ فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ أَقْوَامٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَسْأَلُونَ بِهِ النَّاسَ- رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ
Dari Imran bin Husain menceritakan bahwasanya ada seseorang yang membaca al-Qur’an kemudian meminta minta. Maka dia beristirja’, setelah itu dia berkata : “Aku mendengar Rasululah SAW bersabda’ “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka mintalah kepada Allah dengannya, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca al-Qur’an kemudian mengemis dengannya kepada manusia” ( HR. at Tirmidzi ).
27. Dimasukkan dalam golongan Rasulullah SAW
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ.رَوَاهُ الْبُخَارِيّ
Dari Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Bukan termasuk dari kami orang yang tidak melagukan al-Qur’an”. ( HR. al-Bukhari ).
28. Berhati-hati dalam semua tindakannya.
عَنْ {أَبِيْهِ} بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ يَتَأَكَّلُ بِهِ النَّاسَ، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ عَظْمٌ لَيْسَ عَلَيْهِ لَحْمٌ.- رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ
Dari Buraidah RA dari ayahnya berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an, serta mencari makan dengannya maka pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan wajah tanpa daging” (HR. al Baihaqi).
29. Mendapatkan pahala yang paling utama
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِيْ غَيْرِ الصَّلَاةِ وَ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِيْ غَيْرِ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنَ التَّكْبِيْرِ وَ التَّسْبِيْحِ وَ التَّسْبِيْحُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَ الصَّدَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّوْمِ وَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِّنَ النَّارِ.رَوَاهُ الدَّار قُطْنِيُّ
Dari Aisyah RA berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “ Membaca al-Qur’an pada waktu sholat lebih utama dari pada membaca diluar sholat, membaca al-Qur’an di luar sholat lebih utama daripada takbir, tasbih, dan tasbih lebih utama dari pada shadaqah, serta shadaqah lebih utama dari pada puasa, puasa menjadi tameng (pelindung) dari api neraka (HR. ad Daruquthni).
30. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
عَنْ {عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَوْسٍ الثَّقْفِيُّ عَنْ جَدِّهِ} أَوْسِ بْنِ أََبِيْ أَوْسٍ الثَّقَفِيِّ مَرْفُوْعًا{قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ}: قِرَاءَةُ الرَّجُلِ الْقُرْآنَ فِيْ غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ، وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصْحَفِ تُضَاعَفُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَلْفَيْ دَرَجَةٍ.- رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ،وَالْبَيْهَقِيُّ.
Dari Utsman bin Abdullah bin Aus Ats Tsaqafi dari kakeknya Aus bin Abi Aus ats Tsaqafi secara marfu’ berkata, bersabda Rasulullah SAW : ”Seorang yang membaca al-Qur’an tanpa mushaf mendapat pahala seribu kebaikan, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan mushaf mendapatkan pahala dilipatkan hingga seribu kebaikan”. ( ath Thabrani, al Baihaqi ).
31. Teratur kehidupannya
عَنْ {عَبْدِ اللهِ}بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوْعاً: اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِيْ كُلِّ شَهْرٍ، اقْرَأْهُ فِيْ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً، اقْرَأْهُ فِيْ عَشْرٍ، اقْرَأْهُ فِيْ سَبْعٍ، وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ.-رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَأَبُوْدَاوُدَ.
Dari Ibnu Umar secara marfu’: “Hatamkan al-Qur’an setiap bulan, setiap dua puluh hari, sepuluh hari, satu minggu, dan jangan lebih dari itu” ( HR. asy Syaikhani, Abu Daud ).
32. Terhindar dari hal-hal buruk
عَنِ ابْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُما قَالَ : قَالَ : رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْرَإِ الْقُرْآنَ مَا نَهَاكَ، فَإِذَا لَمْ يَنْهَكَ فَلَسْتَ تَقْرَأُهُ.رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ فِيْ مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ
Dari Ibnu Amr RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : “Bacalah al-Qur’an, maka al-Qur’an itu mencegahmu ( dari hal yang buruk ) maka apabila tidak mencegahmu (dari hal-hal buruk), berarti engkau tidak membacanya”. ( HR. ad Dailami).
33. Tidak pernah tertimpa kesedihan.
عَنْ {عَبْدِ اللهِ بْنِ} بُرَيْدَةَ {عَنْ أَبِيْهِ} قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ بِالْحُزْنِ فَإِنَّهُ نَزَلَ بِالْحُزْنِ.- رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى والطبراني فِي الأوسط
Dari Buraidlah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku: ”Bacalah al-Qur’an dengan rasa sedih karena al-Qur’an menghilangkan kesedihan”. ( HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani).
34. Pemersatu hati.
عَنْ جُنْدَبِ {بْنِ عَبْدِ اللهِ} عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا عَنْهُ. رَوَاهُ أًحْمَد،والشيخان،والنَّسَائِيّ.
Dari Jundab bin Abdullah dari Nabi SAW bersabda : “Bacalah al-Qur'an, maka akan menyatukan hati kalian, jika kalian berselisih padanya maka tinggalkanlah perselisihan itu” ( HR. Ahmad, asy Syaikhani, an Nasai ).
35. Tidak akan pernah merasakan azab
عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْرَأُوا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يُعَذِّبُ قَلْباً وَعَى الْقُرْآنَ. رَوَاهُ تَمَّامٌ.
Dari Abu Umamah RA dari Nabi SAW bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang yang hatinya dipenuhi al-Qur’an”. ( HR. Tammam).
36. Mendapatkan kekayaan yang abadi
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:{ إِنَّ} الْقُرْآنَ غِنًى لَا فَقْرَ بَعْدَهُ، وَلَا غِنَى دُوْنَهُ. رَوَاهُ أَبُوْيَعْلَى .
Dari Anas RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya al-Qur’an merupakan kekayaan, maka tidak ada kefakiran setelahnya, dan tiada kekayaan setelahnya.” (HR. Abu Ya’la).
37. Memperoleh bidadari yang selalu suci
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْقُرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَسَبْعَةٌ وَّعِشْرُوْنَ أَلْفَ حَرْفٍ فَمَنْ قَرَأَهُ صَابِرًا مُحْتَسِبًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ زَوْجَةٌ مِّنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ. رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ.
Dari Umar bin Khathab RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : ”Al-Qur’an terdiri dari ribuan huruf dan dua puluh tujuh ribu huruf, barangsiapa yang membacanya dengan sabar dan seksama (dengan tadabbur) maka untuknya setiap huruf dari al-Qur’an akan menjadi al hur al ‘iin ( Bidadari ) yang akan menjadi istrinya”. ( HR. Ath Thabrani ).
38. Hidupnya terarah
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْقُرْآنُ هُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ، وَالذِّكْرُ الْحَكِيْمُ، وَالصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ.- أخرجه البيهقي
Dari Rasulullah SAW bersabda : “Al-Qur’an merupakan cahaya, pengingat, serta jalan yang lurus“. ( HR. al Baihaiqi ).
39. Sehat jasmani dan rohaninya
عَنْ عَلِيٍّ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ.- رَوَاهُ القُضَاعِيُّ.
Dari Ali RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “ Al-Qur’an adalah obat atau penyembuh” (HR. al Qudlawi didalam Musnad asy Syihab ).
40. Menjadi penghuni surga paling tinggi
عَنْ أَنَسِ{بْنِ مَالِكٍ}رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:أَهْلُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ.- رَوَاهُ الضِّيَاءُ.
Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ahli al-Qur’an menjadi penghuni surga paling tinggi ”. (HR. ad-Dhiya’ ).
1. Menjadi manusia terbaik
عَن عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:خَيْرُ كُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ - رَوَاهُ أًحْمَد وَأَصْحَابُ الْكُتُبِ السِّتَّةِ
Dari Utsman bin ‘Affan RA Rasulullah SAW bersabda : ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Ahmad, al Bukhari, Abu Daud, at Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah).
2. Memperoleh pahala yang berlipat ganda
عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوْسَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ قَالَ : سَمِعْتُ} عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا؛لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ . -رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ،وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Ayyub Bin Musa berkata: Aku mendengar Muhammad Bin Ka’ab Al Qurazhy berkata: Dari Abdullah bin Mas’ud RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “ Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Quran maka dia mendapat satu kebaikan dan setiap satu kebaikan sepuluh pahalanya, aku tidak berkata alif lam min itu satu huruf tetapi alif satu huruf dan mim satu huruf maka baginya sepuluh kebaikan, ” ( HR. at Tirmidzi, hadizt ini hasan shahih).
3. Memperoleh Kedudukan yang mulia
قَالَ عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ : إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَابْنُ مَاجَه.
Dari Umar bin Khaththab RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa golongan dengan sebab al-Qur’an dan menghinakan beberapa golongan lainya dengan sebab al Qur’an ini ” ( HR. Muslim, Ibnu Majah ).
4. Terkabul permohonan tanpa meminta
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِيْ عَنْ مَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ، وَقَالَ: حَسَنٌ غَرِيْبٌ
Dari Abu Said al Khudri, Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan al-Quran dan berdzikir kepada-Ku daripada memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan yang lebih bagus dari apa yang aku berikan kepada orang-orang yang berdo’a “ (HR. at Tirmidzi, dan berkata : hadist ini hasan ).
5. Berbeda dengan orang munafik
عَنْ أَبِيْ مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآن كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. رَوَاهُ أًحْمَدُ،وَالْبُخَارِيُّ، وَمُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمَذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَه
Dari Abu Musa al-Asy’ari RA, Rasulullah SAW bersabda : ”Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Quran seperti utruj (Lemon) baunya harum serta enak rasanya, perumpamaan orang mukmin yang jarang membaca al-Qur’an seperti kurma, tidak ada baunya tetapi manis rasanya, dan perumpamaan munafik yang suka membaca al-Quran seperti rihanah baunya harum tapi rasanya pahit, sedangkan permisalan orang munafik yang tidak suka membaca al Quran sebagaimana Pare tidak ada baunya dan rasanya pun pahit”. ( HR. as Sab’ah ).
6. Ibarat minyak wangi
عَن أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :… وَمَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيْحِهِ. وَمَثَلُ جَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِْ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ.- رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda : “…Perumpamaan teman yang baik seperti penjual minyak wangi bila kamu tidak mendapatkan minyak wanginya, maka paling tidak kamu akan terkena bau harumnya, dan perumpamaan teman yang buruk seperti pandai besi, bila kamu tidak mendapatkan hitamnya, maka paling tidak kamu akan terkena asapanya.“ ( HR. Abu Daud ).
7. Mendapat dua pahala
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ.
Dari Aisyah RA, berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang suka membaca al-Quran dan dia mahir dalam membacanya akan bersama rombongan malaikat yang mulia dan orang yang suka membaca al-Qur’an tetapi tersendat-sendat dalam membacanya dan dia tetap membacanya, maka baginya dua pahala“ ( HR. as Sab’ah, kecuali Ahmad ).
8. Cahaya alam semesta
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوْصِنِيْ: قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ. فَإِنَّهَا رَأْسُ الْأَمْر كُلِّهِ. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ زِدْنِيْ . قَالَ : عَلَيْكَ بِتِلَاوَة الْقُرْآنِ ، فَإِنَّهُ نُوْرٌلَكَ فِي الْأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَّكَ فِي السَّمَاءِ.رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ،وَصَحَّحَهُ فِيْ حَدِيْثٍ طَوِيْلٍ
Dari Abu Dzar al Ghifari RA berkata : “Aku berkata, Wahai Rasulullah berikanlah aku sebuah wasiat, Rasulullah SAW berkata : “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah karena sesungguhnya takwa itu adalah merupakan inti segala perintah’, aku berkata, : ‘Tambahkanlah kepadaku sebuah wasiat, Rasulullah SAW berkata; ‘Hendaklah kamu membaca al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an itu adalah cahaya bagimu di bumi dan cahaya bagimu di langit”. ( HR. Ibnu Hiban).
9. Pemberi syafa’at
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، وَمَاحِلٌ مُّصَدَّقٌ , َوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ
Dari Jabir RA dari nabi SAW bersabda: “Al-Quran pemberi syafa’at bagi yang pantas diberi syafa’at, dan menunjukkan kepada kebenaran..” ( HR. Ibnu Hiban).
10. Pembela yang membaca
أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ { اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ- الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ- فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا؛ - رَوَاهُ مُسْلِم
Dari Abu Umamah al Bahili berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata: “Bacalah al-Qur’an sesungguhnya dia akan memberikan syafaat kepada orang yang senantiasa membacanya, bacalah dua bunga, yaitu surat al-Baqarah dan Ali Imran, sesungguhnya keduanya akan datang pada hari kiamat laksana dua awan yang akan menaungi, atau dua naungan atau keduanya seperti dua kelompok burung yang menaunginya”. ( HR. Muslim )
11. Kedua orangtuanya mulia
عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَ
Dari Sahal bin Muadz Al-Juhani dari ayahnya bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang membaca al Quran serta mengamalkannya, maka Allah akan memakaikan kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari di dunia, maka bagaimana menurut kalian yang mengamalkannya ? “ ( HR.Abu Dawud ).
12. Orangtuanya memperoleh kemuliaan yang tidak disangka-sangka
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ الأَسْلَمِيِّ ، عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ ، وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَ يَقُومُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولانِ : بِمَا كُسِيْنَا ؟ فَيُقَالُ : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ - رَوَاهُ الْحَاكِمُ
Dari Abdullah Buraidah al-Aslami dari bapaknya RA, Nabi SAW bersabda: ”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mempelajarinya (menghafalnya) lalu mengamalkannya dipakaikan hari qiamat sebuah mahkota dari cahaya, cahaya seperti cahaya matahari, kemudian dipakaikan kepada kedua orangtuanya baju kehormatan yang tidak didapati didunia, maka kedua orangtuanya berkata : ‘mengapa kami diberikan kehormatan seperti ini?’ Maka dikatakan, : “karena anak kalian menghafal al-Qur’an”.(HR. Hakim ).
13. Pakaian kebanggaan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَجِيْءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ" فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ" فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ" فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً.- رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ ،وَحَسَّنَهُ،
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersaba : “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat kemudian berkata, ‘Yaa Rabb, hiasilah dia, maka dipakaikan mahkota kehormatan, kemudiaan al-Qur’an itu berkata, ‘Yaa Rabb tambahkanlah, maka dipakaikan perhiasan kehormatan, kemudian al-Qur’an itu berkata, ‘Yaa Rabb ridhalah kepadanya, maka Allah ridha kepadanya, kemudian dikatakan kepada orang itu, ‘bacalah al-Qur’an dengan lemah-lembut akan ditambahkan setiap ayat sebuah kebaikan” (HR. Tirmidzi)
14. Kedudukan yang tinggi
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا.- رَوَاهُ التِّرْمَذِيّ
Dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW bersabda: Dikatakan kepada penghafal al-Quran: “Bacalah dengan lemah lembut dan dengan tartil sebagaimana engkau membaca di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu pada ayat yang terakhir yang engkau baca“. (HR. at Tirmidzi).
15. Mengejar ketinggian
عَبْدِ اللهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ {هَذَا}الْكِتَابَ فَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ{ وَآنَاءَ النَّهَارِ}وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ{آنَاءَ}النَّهَارِ.- رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidak dibenarkan hasad (iri) kecuali kepada dua hal, yaitu seseorang yang dikarunia oleh Allah pengetahuan tentang al-Qur’an lalu dia melaksanakannya setiap siang dan malam, dan seseorang yang dikarunia oleh Allah harta yang banyak lalu di menginfakkannya siang dan malam ( HR. Bukhari dan Muslim ).
16. Berlomba dalam kebaikan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ :رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ.- رَوَاهُ الْبُخَارِيّ
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; “Tidak ada hasad kecali dua hal, seseorang yang diberikan pemahaman oleh Allah dengan al-Qur’an serta membacanya setiap siang dan malam kemudian tetangganya mendengar bacaannya, lalu dia berkata, ‘seandainya aku diberikan seperti apa yang diberikan kepada fulan maka aku akan mengerjakan seperti orang tersebut, dan seseorang yang diberikan Allah kekayaan kemudian membelanjakannya di jalan yang benar, maka orang yang iri berkata: “Seandainya kekayaan itu diberikan kepadaku maka aku akan melakukannya seperti ia lakukan”. (HR. al-Bukhari).
17. Selamat dari dahsyatnya kiamat
عَنِ ابْنِ عمر رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُما قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثَةٌ لَا يَهُوْلُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ، وَلَا يَنَالُهُمُ الْحِسَابُ، هُمْ عَلَى كَثِيْبٍ مِّن مِّسْكٍ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ حِسَابِ الْخَلَائِقِ: رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى، وَأَمَّ بِهِ قَوْماً، وَهُمْ رَاضُوْنَ. وَدَاعٍ يَّدْعُوْ إِلَى الصَّلَاةِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.وَعَبْدٌ أَحْسَنَ بَيْنَهُ، وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَوَالِيْهِ.- رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ
Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “ Tiga golongan yang tidak takut ketika terjadinya dentuman yang dahsyat, mereka tidak akan merasakan beratnya hari perhitungan, mereka dalam semerbak bau misk (minyak wangi) sehingga selesai hisabnya semua makhluk, yaitu seseorang yang membaca al-Qur’an dengan mengharap ridha Allah dan memimpin kaumnya dengan al-Qur’an dan kaumnya ridha, penyeru (muadzin) yang menyeru kepada shalat yang mencari ridha Allah, dan hamba yang berbuat baik kepada sesamanya kepada Rabbnya serta berbuat baik kepada para pembatunya”. (HR. Tabrani)
18. Pemimpin bagi kaumnya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ فَاسْتَقْرَأَهُمْ فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنْ الْقُرْآنِ فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا فَقَالَ مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ قَالَ مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ قَالَ أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ - رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ
Dari Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk memilih pemimpin yang memiliki hafalan al-Qur’an, maka setiap dari mereka membacakan hafalan al-Qur’an yang mereka miliki, kemudian datanglah kepada Rasulullah seseorang yang masih muda usianya, lalu Rasulullah bertanya, “Wahai Fulan apakah engkau memiliki hafalan?’ anak muda itu berkata, ‘ada padaku ini dan itu serta surat al-Baqarah’, Rasulullah bertanya, ‘Apakah ada padamu surat Al-Baqarah?, Ia menjawab, ‘benar’, Rasulullah berkata, ‘pergilah dan engkau menjadi pemimpin mereka,..” ( HR. at-Tirmidzi, dia berkata : hadist ini Hasan).
19. Berbeda dengan kebanyakan manusia
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدِ اسْتَدَرَجَ النُّبُوَّةَ بَيْنَ جَنْبَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُوحَى إِلَيْهِ ، لاَ يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ أَنْ يَجِدَّ مَعَ جِدٍّ ، وَلا يَجْهَلَ مَعَ جَهْلٍ وَفِي جَوْفِهِ كَلامُ اللهِ تَعَالَى -رَوَاهُ الْحَاكِمُ
Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ashi, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka sesungguhnya dia telah mencapai derajat kenabian di kedua pundaknya meskipun tidak di wahyukan kepadanya. Tidak sepantasnya penghafal al-Qur’an lalai bersama orang-orang yang lalai dan berbuat bodoh bersama orang-orang yang bodoh, sementara itu didalam tenggorokannya terpadat al-Qur’an”. ( HR . Hakim ).
20. Penolong
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : رَبِّ إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَيُشَفَّعَانِ. رَوَاهُ أًحْمَدُ
Dari Abdullah ibn Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba, Puasa berkata, ‘Ya Rabb, sesungguhnya aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka aku memberikan syafa’atku. Al-Qur’an berkata, ‘aku mencegahnya tidur di malam hari, maka berilah syafa’at”. (HR. Ahmad)
21. Dimuliakan ketika hari berbangkit
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّكُمْ لاَ تَرْجِعُونَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ -يَعْنِي الْقُرْآنَ- ظَهَرَ مِنْهُ.- رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَرَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ فِيْ مَرَاسِيْلِهِ.
Dari Abi Dzar al Ghifari RA dari Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian Tidak akan kembali di sisi Allah dengan sesuatu yang lebih mulia dari apa yang keluar dari padanya (al-Qur’an )”. (HR. al Hakim, dan Abu Daud ).
22. Diberikan kedudukan yang sangat mulia
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِله أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ. قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ.-رَوَاهُ النَّسَائِيّ
Dari Anas bin Malik RA berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari golongan manusia.” Kemudian para sahabat bertanya: ”Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ahli al-Qur’an adalah keluarga Allah dan yang di istimewakan” ( HR. an-Nasai ).
23. Tidak akan tertimpa bencana
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُما قَالَ:مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ{يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لاَ يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئاً } وَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّوَجَلَّ:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا" قَالَ: إِلَّا الَّذِيْنَ قَرَأُوا الْقُرْآنَ.- رَوَاهُ الْحَاكِمُ،وَقَالَ: صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ.
Dari Ibnu Abbas RA berkata: ”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an tidak akan tertimpa bencana, karena dia tidak mengetahui sedikitpun’, kemudian membaca firman Allah: ‘Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya, kecuali orang – orang beriman…’ QS: (At Tin: 5-6); Ibnu Abbas berkata : “Kecuali orang-orang yang beriman, yaitu orang yang membaca al-Qur’an” (HR. al Hakim ).
24. Dijadikan orang yang paling mulia
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَشْرَافُ أُمَّتِيْ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ،وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ.- رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيْ شُعَبِ الْإِيْمَانِ، وَابْنُ أَبِي الدُّنْيَا.
Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling mulia di antara umatku adalah Penghafal al-Qur’an dan orang yang beribadah di malam hari” (HR. al Baihaqi Ibnu abi ad Dunya, ).
25. Yakin dalam menjalani kehidupan
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ { وَاعْمَلُوْا بِهِ} وَلَا تَغْلُوا فِيهِ وَلَا تَجْفُوا عَنْهُ وَلَا تَأْكُلُوا بِهِ وَلَا تَسْتَكْثِرُوا بِهِ.رَوَاهُ أًحْمَد
Dari Abdurahman bin Syibl RA bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Bacalah al-Qur’an kemudian amalkanlah, dan jangan berlebihan padanya, jangan memutuskannya, jangan mencari makan dengannya, dan jangan memperkaya diri dengannya”. (HR. Ahmad).
26. Terkabul doanya
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى قَاصٍّ يَقْرَأُ ثُمَّ سَأَلَ؛ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلْيَسْأَلِ اللهَ بِهِ فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ أَقْوَامٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَسْأَلُونَ بِهِ النَّاسَ- رَوَاهُ التِّرْمَذِيُّ
Dari Imran bin Husain menceritakan bahwasanya ada seseorang yang membaca al-Qur’an kemudian meminta minta. Maka dia beristirja’, setelah itu dia berkata : “Aku mendengar Rasululah SAW bersabda’ “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka mintalah kepada Allah dengannya, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca al-Qur’an kemudian mengemis dengannya kepada manusia” ( HR. at Tirmidzi ).
27. Dimasukkan dalam golongan Rasulullah SAW
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ.رَوَاهُ الْبُخَارِيّ
Dari Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Bukan termasuk dari kami orang yang tidak melagukan al-Qur’an”. ( HR. al-Bukhari ).
28. Berhati-hati dalam semua tindakannya.
عَنْ {أَبِيْهِ} بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ يَتَأَكَّلُ بِهِ النَّاسَ، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ عَظْمٌ لَيْسَ عَلَيْهِ لَحْمٌ.- رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ
Dari Buraidah RA dari ayahnya berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an, serta mencari makan dengannya maka pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan wajah tanpa daging” (HR. al Baihaqi).
29. Mendapatkan pahala yang paling utama
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِيْ غَيْرِ الصَّلَاةِ وَ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِيْ غَيْرِ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنَ التَّكْبِيْرِ وَ التَّسْبِيْحِ وَ التَّسْبِيْحُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَ الصَّدَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّوْمِ وَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِّنَ النَّارِ.رَوَاهُ الدَّار قُطْنِيُّ
Dari Aisyah RA berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “ Membaca al-Qur’an pada waktu sholat lebih utama dari pada membaca diluar sholat, membaca al-Qur’an di luar sholat lebih utama daripada takbir, tasbih, dan tasbih lebih utama dari pada shadaqah, serta shadaqah lebih utama dari pada puasa, puasa menjadi tameng (pelindung) dari api neraka (HR. ad Daruquthni).
30. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
عَنْ {عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَوْسٍ الثَّقْفِيُّ عَنْ جَدِّهِ} أَوْسِ بْنِ أََبِيْ أَوْسٍ الثَّقَفِيِّ مَرْفُوْعًا{قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ}: قِرَاءَةُ الرَّجُلِ الْقُرْآنَ فِيْ غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ، وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصْحَفِ تُضَاعَفُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَلْفَيْ دَرَجَةٍ.- رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ،وَالْبَيْهَقِيُّ.
Dari Utsman bin Abdullah bin Aus Ats Tsaqafi dari kakeknya Aus bin Abi Aus ats Tsaqafi secara marfu’ berkata, bersabda Rasulullah SAW : ”Seorang yang membaca al-Qur’an tanpa mushaf mendapat pahala seribu kebaikan, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan mushaf mendapatkan pahala dilipatkan hingga seribu kebaikan”. ( ath Thabrani, al Baihaqi ).
31. Teratur kehidupannya
عَنْ {عَبْدِ اللهِ}بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوْعاً: اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِيْ كُلِّ شَهْرٍ، اقْرَأْهُ فِيْ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً، اقْرَأْهُ فِيْ عَشْرٍ، اقْرَأْهُ فِيْ سَبْعٍ، وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ.-رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَأَبُوْدَاوُدَ.
Dari Ibnu Umar secara marfu’: “Hatamkan al-Qur’an setiap bulan, setiap dua puluh hari, sepuluh hari, satu minggu, dan jangan lebih dari itu” ( HR. asy Syaikhani, Abu Daud ).
32. Terhindar dari hal-hal buruk
عَنِ ابْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُما قَالَ : قَالَ : رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْرَإِ الْقُرْآنَ مَا نَهَاكَ، فَإِذَا لَمْ يَنْهَكَ فَلَسْتَ تَقْرَأُهُ.رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ فِيْ مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ
Dari Ibnu Amr RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : “Bacalah al-Qur’an, maka al-Qur’an itu mencegahmu ( dari hal yang buruk ) maka apabila tidak mencegahmu (dari hal-hal buruk), berarti engkau tidak membacanya”. ( HR. ad Dailami).
33. Tidak pernah tertimpa kesedihan.
عَنْ {عَبْدِ اللهِ بْنِ} بُرَيْدَةَ {عَنْ أَبِيْهِ} قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ بِالْحُزْنِ فَإِنَّهُ نَزَلَ بِالْحُزْنِ.- رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى والطبراني فِي الأوسط
Dari Buraidlah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku: ”Bacalah al-Qur’an dengan rasa sedih karena al-Qur’an menghilangkan kesedihan”. ( HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani).
34. Pemersatu hati.
عَنْ جُنْدَبِ {بْنِ عَبْدِ اللهِ} عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا عَنْهُ. رَوَاهُ أًحْمَد،والشيخان،والنَّسَائِيّ.
Dari Jundab bin Abdullah dari Nabi SAW bersabda : “Bacalah al-Qur'an, maka akan menyatukan hati kalian, jika kalian berselisih padanya maka tinggalkanlah perselisihan itu” ( HR. Ahmad, asy Syaikhani, an Nasai ).
35. Tidak akan pernah merasakan azab
عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْرَأُوا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يُعَذِّبُ قَلْباً وَعَى الْقُرْآنَ. رَوَاهُ تَمَّامٌ.
Dari Abu Umamah RA dari Nabi SAW bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang yang hatinya dipenuhi al-Qur’an”. ( HR. Tammam).
36. Mendapatkan kekayaan yang abadi
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:{ إِنَّ} الْقُرْآنَ غِنًى لَا فَقْرَ بَعْدَهُ، وَلَا غِنَى دُوْنَهُ. رَوَاهُ أَبُوْيَعْلَى .
Dari Anas RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya al-Qur’an merupakan kekayaan, maka tidak ada kefakiran setelahnya, dan tiada kekayaan setelahnya.” (HR. Abu Ya’la).
37. Memperoleh bidadari yang selalu suci
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْقُرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَسَبْعَةٌ وَّعِشْرُوْنَ أَلْفَ حَرْفٍ فَمَنْ قَرَأَهُ صَابِرًا مُحْتَسِبًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ زَوْجَةٌ مِّنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ. رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ.
Dari Umar bin Khathab RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : ”Al-Qur’an terdiri dari ribuan huruf dan dua puluh tujuh ribu huruf, barangsiapa yang membacanya dengan sabar dan seksama (dengan tadabbur) maka untuknya setiap huruf dari al-Qur’an akan menjadi al hur al ‘iin ( Bidadari ) yang akan menjadi istrinya”. ( HR. Ath Thabrani ).
38. Hidupnya terarah
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْقُرْآنُ هُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ، وَالذِّكْرُ الْحَكِيْمُ، وَالصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ.- أخرجه البيهقي
Dari Rasulullah SAW bersabda : “Al-Qur’an merupakan cahaya, pengingat, serta jalan yang lurus“. ( HR. al Baihaiqi ).
39. Sehat jasmani dan rohaninya
عَنْ عَلِيٍّ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ.- رَوَاهُ القُضَاعِيُّ.
Dari Ali RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “ Al-Qur’an adalah obat atau penyembuh” (HR. al Qudlawi didalam Musnad asy Syihab ).
40. Menjadi penghuni surga paling tinggi
عَنْ أَنَسِ{بْنِ مَالِكٍ}رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:أَهْلُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ.- رَوَاهُ الضِّيَاءُ.
Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ahli al-Qur’an menjadi penghuni surga paling tinggi ”. (HR. ad-Dhiya’ ).
Jumat, 30 Juli 2010
AL-ANBIYÂ
Surat Al Anbiyâ' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai surat ini dengan al anbiyâ'(nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al Anbiyâ' menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti. Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad s.a.w supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu. Selain yang tersebut diatas pokok-pokok isi surat ini ialah:
1. Keimanan:
- Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia (ayat 7)
- langit dan bumi akan binasa kalau ada Tuhan selain Allah (ayat 22)
- semua Rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah (ayat 25)
- tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati (ayat 35)
- cobaaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan (ayat 35)
- hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba (ayat 40).
2. Kisah-kisah:
- Kisah Ibrahim a.s (ajakan Ibrahim a.s kepada bapaknya untuk menyembah Allah, bantahan Ibrahim terhadap kaumnya yang menyembah berhala-berhala, bantahan lbrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap dirinya Tuhan) (ayat 51-70)
- kisah Nuh a.s (ayat 76-77)
- kisah Daud a.s., dan Sulaiman a.s (ayat 78-82)
- kisah Ayyub a.s. (ayat 83-84)
- kisah Yunus a.s. (ayat 87-88)
- kisah Zakaria a.s (ayat 89-90).
3. Dan lain-lain:
- Karunia Al Quran (ayat 50)
- tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat yang lain dari Al Quran(ayat 5)
- kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya (ayat 6)
- Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmatnya (ayat 31-33)
- soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka (ayat )
- timbulnya Ya'juj dan Ma'juj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat (ayat 96)
- bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya (ayat 105)
- kejadian alam semesta (ayat 30-33)
- sesuatu yang hidup itu berasal dari air (ayat 30).
1. Keimanan:
- Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia (ayat 7)
- langit dan bumi akan binasa kalau ada Tuhan selain Allah (ayat 22)
- semua Rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah (ayat 25)
- tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati (ayat 35)
- cobaaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan (ayat 35)
- hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba (ayat 40).
2. Kisah-kisah:
- Kisah Ibrahim a.s (ajakan Ibrahim a.s kepada bapaknya untuk menyembah Allah, bantahan Ibrahim terhadap kaumnya yang menyembah berhala-berhala, bantahan lbrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap dirinya Tuhan) (ayat 51-70)
- kisah Nuh a.s (ayat 76-77)
- kisah Daud a.s., dan Sulaiman a.s (ayat 78-82)
- kisah Ayyub a.s. (ayat 83-84)
- kisah Yunus a.s. (ayat 87-88)
- kisah Zakaria a.s (ayat 89-90).
3. Dan lain-lain:
- Karunia Al Quran (ayat 50)
- tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat yang lain dari Al Quran(ayat 5)
- kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya (ayat 6)
- Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmatnya (ayat 31-33)
- soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka (ayat )
- timbulnya Ya'juj dan Ma'juj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat (ayat 96)
- bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya (ayat 105)
- kejadian alam semesta (ayat 30-33)
- sesuatu yang hidup itu berasal dari air (ayat 30).
1. AL FATIHAH (T1)
TAFSIR SURAT Al FÂTIHAH
Ada beberapa poin penting yang akan mengisi pembahasan ini, di antaranya:
a. Ayat (1-7)
b. Nama-nama surat Al-Fâtihah
c. Keutamaan surat al-fâtihah
d. Tafsir sura al-fâtihah
e. Kedudukan basmalah dalam surat
f. Hukum membaca basmalah dalam shalat
g. Hukum membaca surat al-fâtihah dalam shalat
h. Hukum membaca al-fâtihah bagi makmum
i. Helajaraa-pelajara dari surat al-fâtihah
A. ayat surah al-Fâtihah.
Surat al-Fâtihah terdiri dari tujuh ayât yaitu:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
B. Nama-nama surat :
a. Al-fâtihah (pembuka)
b. As-sab’ul matsâni (tujuh ayat yang di ulang-ulang)
c. Ummu al-qur’an (induk al-qur’qn)
d. Ummu al-kitab (induk al-kitab)
e. Al-qur’an al-‘adzîm (al-qur’an yang agung)
f. As-shalâh (shalat)
g. Al-asâs (pondasi)
h. A l-wâfiyah (sempurna)
i. Al-kâfiyah (cukup)
j. As-syâfiyah (obat)
k. Ar-Ruqyah (mantera)
C. Keutamaan surat al-Fâtihah
Dari sa’îd al-Ma’ly berkata: saya melakukan shalat di sat Rasul memanggilku, setelah saya menyelesaikannya, saya datang kepada Rasul lalu beliau bertanya kepadaku, bukankah Allah berfirman yang artinya ”Penuhilah panggilan Allah dan RasulNya apabila memanggil kalian..”. saya sedang shalat Rasul, lalu beliau berkata ”Akan aku ajarkan kepadamu satu surat yang paling mulia dalam al-qur’an, yaitu alhamdu lillah r
abbil ‘âlamîn, ia adalah al-qur’ân yang mulia dan as-sab’u al-mastânΔ
D. Tafsir surat al-fâtihah
- Surat ini tergolong surat yang diturunkan di Makkah (Makkiyyah), yang berisikan pokok-pokok ajaran, seperti akidah, ibadah, nama-nama Allah yang agung (asma al husna), tugas pokok manusia, golongan manusia dan sejarahnya.
- [بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ] saya mulai membaca al-qur’an dengan menyebut nama Allah. Kata [اللَّه] sebutan mulia di antara nama-nama yang bagus (asmâ al-husnâ). Sebutan tersebut mengandung banyak rahasia dan keberkahan. [الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] adalah dua kata yang menunjukkan kondisi puncak kasih saying yang merupakan sifat Allah. Biasanya di bedakan dengan terbatas dan tidaknya obyek yang mendapat kasih sayang, kata yang pertama menunjukkan kasih saying Allah meliputi semua makhlukNya tanpa ada pengecualian, hal ini terjadi di dunia karena di dunia ini meskipun ada makhluk yang berbuat dosa tapi karena kasih sayang ini, maka ia tetap makhlukNya yang berhak mendapat kasih sayangNya. Sedang kata yang kedua adalah puncak kasih sayang khusus, artinya diberikan kepada kelompok makhluk tertentu dan bukan yang lainnya, hal ini terjadi di akhirat karena di akhirat hanya ada dua tempat yaitu di surga atau di neraka, maka kasih sayang di akhirat hanya untuk yang berada di surge saja.
- [الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ] Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Kata Robb menunjukkan arti pencipta, pemberi rizki, pelindung dan pemilik, dengan kesempurnaan inilah maka Allah memiliki segala pujian, karena makhluk bersifat serba kurang maka tidak boleh mengharapkan pujian.
- [الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] Tuhan yang maha pengasih di dunia dan maha pengasih di akhirat, juga berarti kasih sayangNya meliputi semua masa.
- [مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ] yang memiliki hari pembalasan. Kata mâliki juga di baca pendek maliki yang berarti raja atau penguasa, setiap penguasa adalah pemilik segala yang dikuasai. Sedang kata yaum ad-dîn juga berarti hari kiamat yang semua makhluk Allah akan mendapatkan balasan amal mereka.
- [إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ] hanya kepadaMu (Allah) kami beribadah dan hanya kepadaMu (Allah) kami mohon pertolongan. Dalam ayat ini ada suatu rahasi di mana mendahulukan obyek iyyâka atas subyek dan predikatnya menunjukkan suatu yang istimewa yaitu penghambaan dan permohonan yang merupakan inti tauhîd tidak boleh di berikan kepada selainAllah.
- [اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ] Tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Kata ihdinâ yang merupakan kata permohonan hidayah (do’a) mencakup semua ragam hidayah, seperti hidayah fitrah, instink, akal arahan Nabi melalui wahyu, hidayah agama dan hidayah bimbingan hati. Sedang kata shirât menggunakan huruf shad atau sirât menggunakan huruf sin mempunyai arti jalan. Jalan ini di jelaskan dengan kata al-mustaqîm yang berarti lurus, jalan lurus bisa berarti jalan Islam atau jaln al-qur’an dan jalan Muhammad SAW.
- [صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ] Jalan mereka orang-orang yang Engkau beri ni’mat dan bukan jalan mereka yang engkau murkai dan sesat. Ayat pesisinya menjadi penjelas dari ayat sebelumnya. Dalam ayat ini menyebutkan dua kelompok manusia yaitu kelompok yang mendapat ni’mat dan di mendapat pujian dan kelompok lain yang mendapat murka dan sesat. Ketika di telusuri di ayat lain dalam al-qur’an, kita mendapatkan ayat : “Mereka yang mendapat ni’mat adalah golongan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shâlihin, mereka adalah teman yang baik” sedang yang mendapat murka dan sesat kita dapatkan kata yang menunujuk kelompok ahli kitab dan orang yang melampaui batas, meskipun tetap boleh dalam arti umumnya yaitu siapa saja yang berhak mendapat murka dengan kesalahan apapun.
E. Kedudukan basmalah dalam surah
Basmalah بسم الله الرحمن الرحيم )) merupakan ayat pertama dari surat al-fâtihah seperti yang ada dalam mushaf, hal ini berbeda dari surat-surat yang lain dalam al-qur’ân yang mana basmalah meskipun ada pada permulaan setiap surat kecuali surat al-Barôah, namun tidak termasuk dari setiap surat tersebut. Hal ini menimbulkan implikasi hukum, khususnya terkait dengan bacaan di saat shalat. Namun pemberian nomor pada basmalah dalam surat ini dan tidak pada surat yang lain dengan angka satu (1) menunjukkan adanya pendapat lain. Ketika ditelusuri dalam literatur tafsir dijumpai ada beberapa pendapat tentang kedudukan basmalah dalam al-qur’an, ringkasnya basmalah merupakan ayat dari al-fâtihah dan setiap surat kecuali barôah, ini pendapat imam as-Syafi’I, kedua basmalah hanya salah satu ayat dari surat an-Naml, ini pendapat imam Malik, yang lain lagi basmalah diturunkan untuk berkah dan mengetahui akhir dan permulaan surat, ini pendapat imam Abu Hanifah .
F. Hukum membaca basmalah dalam shalat
Karena salah satu pendapat bahwa kedudukan basmalah merupakan ayat dari al-fâtihah, maka implikasi hukumnya adalah adanya pendapat keharusan membaca basmalah dalam shalat, minimal adanya pendapat yang kuat untuk membacanya dalam shalat. Akan tetapi bukan berarti tidak ada pendapat yang lain, keragaman pendapat dalam hal ini sama dengan pendapat tentang kedudukan basmalah dalam al-fâtiha dan awal setiap surat. Ada yang harus membacanya dan harus di keraskan (jahr) suaranya seperti al-fâtihah, ada yang di sesuaikan dengan alfâtihah jika di baca keras, maka harus keras dan jika pelan maka harus pelan juga, dan ada juga yang tidak boleh membaca sama sekali .
G. Hukum membaca surat al-fâtihah dalam shalat
Al-fâtihah adalah yang paling di kenal dan di hafal oleh umumnya masyarakat diantara surat-surat dalam al-qur’an, karena itu ia termasuk surat yang mudah, pendek dan juga karena adanya anjuran untuk membacanya dalam shalat “Tidak sah atau tidak sempurna shalat seseorang jika tidak membaca di al-fâtihah”, maka dalam pemahaman ini membaca al-fâtihah dalam shalat hukumnya wajib termasuk rukun shalat.
H. Hukum membaca al-fâtihah bagi makmum
Sedang bagi makmum hukum membaca al-fâtihah dalam shalat ada beberapa pendapat:
a- Wajib membaca dengan dalil hadis di atas yang artinya “Tidak sah atau sempurna shalat seseorang jika tidak membaca al-fâtihah”
b- Tidak wajib membaca dasarnya hadis “Bacaan imam adalah bacaan makmum”
c- Di bedakan antara shalat yang bacaan al-fatihah dan suratnya di keraskan (shalat jahriyyah), maka pada shlat jenis ini makmum tidak perlu membaca al-fatihah, jika jenis shalat yang bacaan keduanya di pelankan (sirriyyah) maka makmum di anjurkan membaca al-fâtihah.
I. Pelajaraa-pelajara dari suah al fatihah
Ada beberapa pelajaran yang dapat di ambil, di antaranya:
- Memulai segala sesuatu pekerjaan baik dengn membaca basmalah.
- Segala puji milik Allah, tidak pantas seorang hamba minta atau mencari pujian jika berbuat sesuatu.
- Ibadah adalah tugas diciptakan makhluk, dan hanya di tujukan kepada Allah
- Etikanya, jika seseorang mempunyai kebutuhan kepada orang lain memulai bicaranya atau komunikasinya dengan baiak dan santun.
- Pentingnya membuat grop atau sirkel (teman bergaul dan melingkar) yang baik.
Ada beberapa poin penting yang akan mengisi pembahasan ini, di antaranya:
a. Ayat (1-7)
b. Nama-nama surat Al-Fâtihah
c. Keutamaan surat al-fâtihah
d. Tafsir sura al-fâtihah
e. Kedudukan basmalah dalam surat
f. Hukum membaca basmalah dalam shalat
g. Hukum membaca surat al-fâtihah dalam shalat
h. Hukum membaca al-fâtihah bagi makmum
i. Helajaraa-pelajara dari surat al-fâtihah
A. ayat surah al-Fâtihah.
Surat al-Fâtihah terdiri dari tujuh ayât yaitu:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
B. Nama-nama surat :
a. Al-fâtihah (pembuka)
b. As-sab’ul matsâni (tujuh ayat yang di ulang-ulang)
c. Ummu al-qur’an (induk al-qur’qn)
d. Ummu al-kitab (induk al-kitab)
e. Al-qur’an al-‘adzîm (al-qur’an yang agung)
f. As-shalâh (shalat)
g. Al-asâs (pondasi)
h. A l-wâfiyah (sempurna)
i. Al-kâfiyah (cukup)
j. As-syâfiyah (obat)
k. Ar-Ruqyah (mantera)
C. Keutamaan surat al-Fâtihah
Dari sa’îd al-Ma’ly berkata: saya melakukan shalat di sat Rasul memanggilku, setelah saya menyelesaikannya, saya datang kepada Rasul lalu beliau bertanya kepadaku, bukankah Allah berfirman yang artinya ”Penuhilah panggilan Allah dan RasulNya apabila memanggil kalian..”. saya sedang shalat Rasul, lalu beliau berkata ”Akan aku ajarkan kepadamu satu surat yang paling mulia dalam al-qur’an, yaitu alhamdu lillah r
abbil ‘âlamîn, ia adalah al-qur’ân yang mulia dan as-sab’u al-mastânΔ
D. Tafsir surat al-fâtihah
- Surat ini tergolong surat yang diturunkan di Makkah (Makkiyyah), yang berisikan pokok-pokok ajaran, seperti akidah, ibadah, nama-nama Allah yang agung (asma al husna), tugas pokok manusia, golongan manusia dan sejarahnya.
- [بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ] saya mulai membaca al-qur’an dengan menyebut nama Allah. Kata [اللَّه] sebutan mulia di antara nama-nama yang bagus (asmâ al-husnâ). Sebutan tersebut mengandung banyak rahasia dan keberkahan. [الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] adalah dua kata yang menunjukkan kondisi puncak kasih saying yang merupakan sifat Allah. Biasanya di bedakan dengan terbatas dan tidaknya obyek yang mendapat kasih sayang, kata yang pertama menunjukkan kasih saying Allah meliputi semua makhlukNya tanpa ada pengecualian, hal ini terjadi di dunia karena di dunia ini meskipun ada makhluk yang berbuat dosa tapi karena kasih sayang ini, maka ia tetap makhlukNya yang berhak mendapat kasih sayangNya. Sedang kata yang kedua adalah puncak kasih sayang khusus, artinya diberikan kepada kelompok makhluk tertentu dan bukan yang lainnya, hal ini terjadi di akhirat karena di akhirat hanya ada dua tempat yaitu di surga atau di neraka, maka kasih sayang di akhirat hanya untuk yang berada di surge saja.
- [الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ] Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Kata Robb menunjukkan arti pencipta, pemberi rizki, pelindung dan pemilik, dengan kesempurnaan inilah maka Allah memiliki segala pujian, karena makhluk bersifat serba kurang maka tidak boleh mengharapkan pujian.
- [الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] Tuhan yang maha pengasih di dunia dan maha pengasih di akhirat, juga berarti kasih sayangNya meliputi semua masa.
- [مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ] yang memiliki hari pembalasan. Kata mâliki juga di baca pendek maliki yang berarti raja atau penguasa, setiap penguasa adalah pemilik segala yang dikuasai. Sedang kata yaum ad-dîn juga berarti hari kiamat yang semua makhluk Allah akan mendapatkan balasan amal mereka.
- [إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ] hanya kepadaMu (Allah) kami beribadah dan hanya kepadaMu (Allah) kami mohon pertolongan. Dalam ayat ini ada suatu rahasi di mana mendahulukan obyek iyyâka atas subyek dan predikatnya menunjukkan suatu yang istimewa yaitu penghambaan dan permohonan yang merupakan inti tauhîd tidak boleh di berikan kepada selainAllah.
- [اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ] Tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Kata ihdinâ yang merupakan kata permohonan hidayah (do’a) mencakup semua ragam hidayah, seperti hidayah fitrah, instink, akal arahan Nabi melalui wahyu, hidayah agama dan hidayah bimbingan hati. Sedang kata shirât menggunakan huruf shad atau sirât menggunakan huruf sin mempunyai arti jalan. Jalan ini di jelaskan dengan kata al-mustaqîm yang berarti lurus, jalan lurus bisa berarti jalan Islam atau jaln al-qur’an dan jalan Muhammad SAW.
- [صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ] Jalan mereka orang-orang yang Engkau beri ni’mat dan bukan jalan mereka yang engkau murkai dan sesat. Ayat pesisinya menjadi penjelas dari ayat sebelumnya. Dalam ayat ini menyebutkan dua kelompok manusia yaitu kelompok yang mendapat ni’mat dan di mendapat pujian dan kelompok lain yang mendapat murka dan sesat. Ketika di telusuri di ayat lain dalam al-qur’an, kita mendapatkan ayat : “Mereka yang mendapat ni’mat adalah golongan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shâlihin, mereka adalah teman yang baik” sedang yang mendapat murka dan sesat kita dapatkan kata yang menunujuk kelompok ahli kitab dan orang yang melampaui batas, meskipun tetap boleh dalam arti umumnya yaitu siapa saja yang berhak mendapat murka dengan kesalahan apapun.
E. Kedudukan basmalah dalam surah
Basmalah بسم الله الرحمن الرحيم )) merupakan ayat pertama dari surat al-fâtihah seperti yang ada dalam mushaf, hal ini berbeda dari surat-surat yang lain dalam al-qur’ân yang mana basmalah meskipun ada pada permulaan setiap surat kecuali surat al-Barôah, namun tidak termasuk dari setiap surat tersebut. Hal ini menimbulkan implikasi hukum, khususnya terkait dengan bacaan di saat shalat. Namun pemberian nomor pada basmalah dalam surat ini dan tidak pada surat yang lain dengan angka satu (1) menunjukkan adanya pendapat lain. Ketika ditelusuri dalam literatur tafsir dijumpai ada beberapa pendapat tentang kedudukan basmalah dalam al-qur’an, ringkasnya basmalah merupakan ayat dari al-fâtihah dan setiap surat kecuali barôah, ini pendapat imam as-Syafi’I, kedua basmalah hanya salah satu ayat dari surat an-Naml, ini pendapat imam Malik, yang lain lagi basmalah diturunkan untuk berkah dan mengetahui akhir dan permulaan surat, ini pendapat imam Abu Hanifah .
F. Hukum membaca basmalah dalam shalat
Karena salah satu pendapat bahwa kedudukan basmalah merupakan ayat dari al-fâtihah, maka implikasi hukumnya adalah adanya pendapat keharusan membaca basmalah dalam shalat, minimal adanya pendapat yang kuat untuk membacanya dalam shalat. Akan tetapi bukan berarti tidak ada pendapat yang lain, keragaman pendapat dalam hal ini sama dengan pendapat tentang kedudukan basmalah dalam al-fâtiha dan awal setiap surat. Ada yang harus membacanya dan harus di keraskan (jahr) suaranya seperti al-fâtihah, ada yang di sesuaikan dengan alfâtihah jika di baca keras, maka harus keras dan jika pelan maka harus pelan juga, dan ada juga yang tidak boleh membaca sama sekali .
G. Hukum membaca surat al-fâtihah dalam shalat
Al-fâtihah adalah yang paling di kenal dan di hafal oleh umumnya masyarakat diantara surat-surat dalam al-qur’an, karena itu ia termasuk surat yang mudah, pendek dan juga karena adanya anjuran untuk membacanya dalam shalat “Tidak sah atau tidak sempurna shalat seseorang jika tidak membaca di al-fâtihah”, maka dalam pemahaman ini membaca al-fâtihah dalam shalat hukumnya wajib termasuk rukun shalat.
H. Hukum membaca al-fâtihah bagi makmum
Sedang bagi makmum hukum membaca al-fâtihah dalam shalat ada beberapa pendapat:
a- Wajib membaca dengan dalil hadis di atas yang artinya “Tidak sah atau sempurna shalat seseorang jika tidak membaca al-fâtihah”
b- Tidak wajib membaca dasarnya hadis “Bacaan imam adalah bacaan makmum”
c- Di bedakan antara shalat yang bacaan al-fatihah dan suratnya di keraskan (shalat jahriyyah), maka pada shlat jenis ini makmum tidak perlu membaca al-fatihah, jika jenis shalat yang bacaan keduanya di pelankan (sirriyyah) maka makmum di anjurkan membaca al-fâtihah.
I. Pelajaraa-pelajara dari suah al fatihah
Ada beberapa pelajaran yang dapat di ambil, di antaranya:
- Memulai segala sesuatu pekerjaan baik dengn membaca basmalah.
- Segala puji milik Allah, tidak pantas seorang hamba minta atau mencari pujian jika berbuat sesuatu.
- Ibadah adalah tugas diciptakan makhluk, dan hanya di tujukan kepada Allah
- Etikanya, jika seseorang mempunyai kebutuhan kepada orang lain memulai bicaranya atau komunikasinya dengan baiak dan santun.
- Pentingnya membuat grop atau sirkel (teman bergaul dan melingkar) yang baik.
TAFSIR 1(SAP)
MATA KULIAH
TAFSIR 1
Dosen
Dr. H. Ali Akhmadi MA
III. Tujuan:
Mahasiswa mampu memahami surah al Fatihah, an-nur, langkah-langkah syetan, hukum riba, pernikahan dengan beda agama, amar ma’ruf nahi munkar. Semuanya diharapkan mampu menghadirkan komitmen dengan rambu-rambu al qur an dan as sunnah.
IV. Materi
1. Tafsir surah Al Fatihah
a. keutamaan surah al fatihah
b. tafsir surah al fatihah
c. kedudukan basmalah dalam surah
d. hukum membaca basmalah dalam shalat
e. hukum membaca surah al fatihah dalam shalat
f. hukum membaca al fatihah bagi makmum
g. pelajaraa-pelajara dari suah al fatihah
2. Langkah-langkah syetan dalam menyesatkan manusia (2/208)
a. makna syetan
b. tafsir 2/208
c. korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syeta
d. langkah-langkah syetan
e. pelajaran-pelajaran
3. Tipikal masyarakat shhhaleh dalam al-qur an (49/1-13)
a. tafsir surah al hujuraat ayatc1-13
b. karasteristic masyarakat shaleh
c. pelajaran pelajaran
4. Konsep ihsan dan amar ma’ruf nahi munkar (16/90)
a. tafsir ayat ini
b. makna ihsan
c. makna amar makruf nahi munkar
d. ugensinya
e. bahaya meningglkannya
f. pelajaran
5. Toleransi dalam al qur an (al kafirun)
a. tafsir surah ini
b. sabab an nuzul
c. makna toleransi
d. perbedaan antara toleransi dan partisipasi
e. pelajaran dakwah dari surah al kafirun
6. Pernikahan dengan beda agama (2/221)
a. tafsir ayat ini
b. sebab an nuzul
c. hokum pernikahan dengan pasangan beda agama
d. hikmah yang di ambil
7. Riba dalam al qur an (2/275-281)
a. tafsir ayat-ayat ini
b. tahapan ayat-ayat riba
c. jenis-jenis riba
d. pelajaran yang dapat di ambil
8. Tafsir surah an nur (ayat 1-31)
a. hukuman bagi pelaku zina
b. sangsi terhadap penuduh zina
c. cerita bohong (hadist al ifk)
d. aurat laki dan perempuan
9. Seputar pernikahan rasulullah (AL-Ahzab;50)
a. tafsir ayat ini
b. wanita yang boleh di nikahi rasul
c. kenapa dibolehkan (rahasiaanya)
d. pelajaran yang dapat di ambil
Maraji’
1- Tafsir Ibnu Katsir
2- Tafsir Ahkam as-Shabuni
3- Tafsir Qurtubi
4- Fi dzilzl al-Qur an
5- Tafsir Munir Wahbah Zuhaili
6- Tafsir Kabir ar-Razi
TAFSIR 1
Dosen
Dr. H. Ali Akhmadi MA
III. Tujuan:
Mahasiswa mampu memahami surah al Fatihah, an-nur, langkah-langkah syetan, hukum riba, pernikahan dengan beda agama, amar ma’ruf nahi munkar. Semuanya diharapkan mampu menghadirkan komitmen dengan rambu-rambu al qur an dan as sunnah.
IV. Materi
1. Tafsir surah Al Fatihah
a. keutamaan surah al fatihah
b. tafsir surah al fatihah
c. kedudukan basmalah dalam surah
d. hukum membaca basmalah dalam shalat
e. hukum membaca surah al fatihah dalam shalat
f. hukum membaca al fatihah bagi makmum
g. pelajaraa-pelajara dari suah al fatihah
2. Langkah-langkah syetan dalam menyesatkan manusia (2/208)
a. makna syetan
b. tafsir 2/208
c. korelasi antara perintah totalitas dalam berislam dengan larangan mengikuti langkah syeta
d. langkah-langkah syetan
e. pelajaran-pelajaran
3. Tipikal masyarakat shhhaleh dalam al-qur an (49/1-13)
a. tafsir surah al hujuraat ayatc1-13
b. karasteristic masyarakat shaleh
c. pelajaran pelajaran
4. Konsep ihsan dan amar ma’ruf nahi munkar (16/90)
a. tafsir ayat ini
b. makna ihsan
c. makna amar makruf nahi munkar
d. ugensinya
e. bahaya meningglkannya
f. pelajaran
5. Toleransi dalam al qur an (al kafirun)
a. tafsir surah ini
b. sabab an nuzul
c. makna toleransi
d. perbedaan antara toleransi dan partisipasi
e. pelajaran dakwah dari surah al kafirun
6. Pernikahan dengan beda agama (2/221)
a. tafsir ayat ini
b. sebab an nuzul
c. hokum pernikahan dengan pasangan beda agama
d. hikmah yang di ambil
7. Riba dalam al qur an (2/275-281)
a. tafsir ayat-ayat ini
b. tahapan ayat-ayat riba
c. jenis-jenis riba
d. pelajaran yang dapat di ambil
8. Tafsir surah an nur (ayat 1-31)
a. hukuman bagi pelaku zina
b. sangsi terhadap penuduh zina
c. cerita bohong (hadist al ifk)
d. aurat laki dan perempuan
9. Seputar pernikahan rasulullah (AL-Ahzab;50)
a. tafsir ayat ini
b. wanita yang boleh di nikahi rasul
c. kenapa dibolehkan (rahasiaanya)
d. pelajaran yang dapat di ambil
Maraji’
1- Tafsir Ibnu Katsir
2- Tafsir Ahkam as-Shabuni
3- Tafsir Qurtubi
4- Fi dzilzl al-Qur an
5- Tafsir Munir Wahbah Zuhaili
6- Tafsir Kabir ar-Razi
Minggu, 25 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)